Oleh Gilang Ramadhan (Mahasiswa jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran)

 

Kekayaan Bahasa

Salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia adalah bahasa Sunda yang dituturkan oleh orang Sunda, baik yang tinggal di provinsi Jawa Barat, maupun di luar provinsi itu. Sugiyono, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengatakan bahwa pada 2012, terdapat 726 bahasa daerah di Indonesia[1]. Di antara ratusan bahasa daerah itu, bahasa Sunda menduduki posisi kedua sebagai bahasa daerah yang paling banyak penuturnya, yakni sebanyak 34 juta penutur[2]. Hal tersebut juga disambut dengan fakta bahwa penggunaan bahasa Sunda menembus batas-batas geografis, administratif, dan genealogis. Seperti halnya pakar Kesundaan asal Jepang, Mikihiro Moriyama. Kang Miki, sapaan akrabnya, adalah akademisi yang fokus terhadap studi Kesundaan. Selain fasih menggunakan bahasa Sunda, Ia juga banyak menelurkan karya tentang Sunda, salah satunya adalah buku berjudul Semangat Baru Kolonialisme Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (2013).

Fenomena ini bagaikan mata uang yang memiliki dua sisi. Sebagai orang Sunda, kita patut berbangga karena ada orang asing yang mau mempelajari bahasa dan budaya Sunda, namun di sisi lain kita patut mawas diri, sudah sejauh mana kita mengimplementasikan bahasa dan budaya Sunda?

Bahasa Sunda, Meninggalkan atau Ditinggalkan?

Sebagai bahasa daerah yang penuturnya terbanyak kedua di Indonesia setelah bahasa Jawa, bahasa Sunda tetap rentan akan kepunahan, karena angka tersebut kian menurun. Menurut Kepala Sub Bagian Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat, Juanda, pada 2015 penggunaan bahasa Sunda di kalangan mahasiswa masih kalah populer dibandingkan penggunaan bahasa asing[3]. Kemudian, peneliti Balai Bahasa Jawa Barat (BBJB), Ade Mulyanah, juga mengatakan bahwa tahun 2013, hanya 40% pemuda di Jawa Barat yang mengetahui dan bisa menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan[4]. Ironisnya, angka itu didapatkan dari hasil survei anak yang memiliki orangtua asli Sunda. Fenomena ini membuat bahasa Sunda layak disebut “bukan bahasa biasa”, karena penutur yang banyak tidak menjamin eksistensinya akan terus bertahan.

Sumber: http://simaknews.com/berita-mengapa-orang-sunda-sulit-melafalkan-huruf-f.html

Setidaknya terdapat dua fungsi bahasa, yakni fungsi linguistik dan fungsi kultural[5]. Fungsi linguistik menunjukkan bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan gagasan atau pesan kepada lawan bicaranya sedangkan fungsi kultural menunjukkan bahwa bahasa berkaitan dengan sistem sosial dan kebudayaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Melihat realita yang terjadi saat ini, permasalahan bahasa Sunda terletak pada kedua fungsi bahasa itu. Bahasa Sunda mulai jarang digunakan sebagai media komunikasi, dan juga tidak lagi menunjukkan jati diri penuturnya dalam kehidupan sosial.

Kurikulum 2013 yang berlaku bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah (SMP dan SMA) saat ini tidak mencantumkan bahasa daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal. Hal ini yang menjadi dasar bagi Forum Peduli Bahasa Daerah se-Indonesia untuk melakukan desakan kepada panitia kerja Kurikulum Komisi X DPR RI, Utut Adianto, guna mempertimbangkan keputusan tersebut saat masa awal pemberlakuannya[6]. Forum itu menegaskan bahwa pelajaran bahasa daerah perlu berdiri sendiri, tidak diintegrasikan dengan pelajaran seni dan prakarya. Namun sayangnya, pelajaran bahasa daerah tetap diintegrasikan dengan pelajaran lain sehingga porsi pengajarannya berkurang.

Bahasa Sunda secara perlahan-lahan mulai meninggalkan orang Sunda. Masyarakat Jawa Barat sebagai penutur terbanyak bahasa Sunda seharusnya waspada akan eksistensi bahasa Sunda. Apakah bahasa Sunda akan punah dan meninggalkan penuturnya?

Kaulinan Barudak dan Kesadaran Berbahasa Sunda

Salah satu aksi nyata untuk mempertahankan eksistensi bahasa Sunda adalah dengan membuat kegiatan di komunitas atau lingkungan masing-masing berbentuk pengenalan dan penerapan penggunaan bahasa Sunda, misalnya di lingkungan rumah bersama dengan Karang Taruna setempat, di lingkungan pendidikan dapat dilakukan melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Kegiatannya dapat berupa penjelasan mengenai sejarah bahasa Sunda, karakter bahasa Sunda yang penuh dengan keramahan dan keterbukaan, yang semua kegiatannya dilakukan dengan menggunakan bahasa Sunda. Kegiatan ini juga dapat memperlancar dan membiasakan diri untuk menggunakan bahasa Sunda.

Kesiapan selajutnya juga perlu dilakukan oleh para guru PAUD, TK, SD, dan Sekolah Menengah. Guru harus dibekali kemampuan berbahasa Sunda, dan menerapkan proses belajar yang menyenangkan. Perwujudan proses belajar yang menyenangkan dapat dilakukan dengan melakukan metode pembelajaran melalui permainan daerah Jawa Barat atau biasa disebut kaulinan barudak, misalnya gatrik, sorodot gaplok, ucing sumput, galah, dan sebagainya. Kaulinan barudak mencerminkan kearifan budaya Sunda dan dapat memupuk karakter anak dengan permainan yang dinamis. Kaulinan barudak juga akan membiasakan anak-anak berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda sejak dini sehingga mereka tidak asing dengan bahasa Sunda.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=cKdZ4mANgMw

Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional setiap 21 Februari juga dapat menjadi ajang bagi pemerintah dan masyarakat Jawa Barat untuk unjuk gigi dalam menunjukkan rasa cinta dan kebanggaannya terhadap bahasa Sunda. Kegiatan festival-festival Kesundaan dapat selalu dihadirkan untuk memicu dan menguatkan rasa tersebut pada orang Jawa Barat, khususnya pemuda.

Solusi lain untuk menghalau dampak negatif dari globalisasi teknologi dan informasi adalah dengan menggunakan teknologi dan informasi itu sendiri. Bagi pemuda Jawa Barat yang mayoritas sudah memiliki gawai atau telepon pintar, dapat mengunjungi  website Kesundaan, seperti www.mangle-online.com, www.sundanews.com, dan www.sundanet.com, untuk menggali informasi agar bahasa dan budaya Sunda semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak lupa, pelajaran dari lingkungan terdekat juga sangat berpengaruh. Orangtua dan keluarga perlu mengenalkan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu sejak dini kepada anak-anak mereka sehingga dapat tumbuh kesadaran berbahasa Sunda tanpa ada rasa malu untuk menggunakannya. Bagi orang tua yang berasal dari latar belakang etnis yang berbeda, misalnya ayah berasal dari etnis Sunda dan ibu dari etnis Minang, maka setidaknya ajarkan kedua bahasa daerah tersebut kepada sang anak, bisa bahasa Sunda atau pun bahasa Minang, bahkan bisa kedua-duanya. Lebih jauh, pemerintah provinsi Jawa Barat dapat membuat program penghargaan kepada keluarga di Jawa Barat yang mengajarkan dan mengimplementasikan bahasa Sunda dengan baik. Hal ini dapat menambah motivasi keluarga-keluarga di Jawa Barat untuk mengajarkan bahasa Sunda kepada anak-anaknya.

Usaha untuk mempertahankan eksistensi bahasa Sunda tidak hanya dapat mempertahankan bahasa Sunda itu sendiri saja, tetapi juga akan memperkuat kebudayaan nasional. Jika budaya lokalnya lestari, maka kebudayaan nasionalnya akan kokoh. Lestari budayanya, maju negaranya! (Editor: Ranny Rastati)

Daftar Pustaka

[1] Melalui https://nasional.tempo.co/read/435218/3-bahasa-terpopuler-di-indonesia, diakses pada diakses pada Selasa, 03 April 2018  pukul 14:04 WIB

[2] Melalui https:// nasional .sindonews .com /read /1252853 /15 /ini- dia- 10-bahasa –daerah –dengan –penutur –terbanyak –di –indonesia -1509344321, diakses pada Selasa, 03 April 2018  pukul 20:04 WIB

[3] Melalui http:// isolapos.com /2015/02/ bahasa –sunda –mulai -ditinggalkan/, diakses pada Selasa, 03 April 2018 pukul 20:14 WIB

[4] Melalui https:// www. antaranews. com/ berita/ 392249/ bahasa- sunda- terus- tergerus, diakses pada Selasa, 03April 2018 pukul 21:02 WIB

[5] Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa

[6] Melalui http://edukasi. kompas.com /read/ 2013/01/07/19153069 /Bahasa. Daerah. Harus. Masuk. Kurikulum. 2013., diakses pada Rabu 04 April 2018 pukul 19:34 WIB

Sumber gambar unggulan: https://www.youtube.com/watch?v=HkR0vVEQ-MY

________________________________________

Tentang Penulis

Gilang Ramadhan adalah mahasiswa jurusan Sejarah, Universitas Padjajaran (UNPAD). Ia lahir di Subang, pada 16 Januari 1997. Wujud nyata kecintaannya terhadap bahasa Sunda terlihat melalui keikutsertaan dalam pemilihan Duta Bahasa Pelajar Jawa Barat 2014 dan meraih Juara 2 Putera. Sampai saat ini, ia masih aktif dalam kegiatan kebahasaan, seperti Ketua Public Speaking Club (FAAC) di FIB UNPAD pada tahun 2017. Mottonya adalah “Tiada hasil yang mengkhianati usaha dan doa”. Email: gilangramadhan.indonesia@gmail.com