[Drama Korea Kolosal: Dari Akurasi hingga Distorsi Sejarah]

Oleh Ranny Rastati (Peneliti PMB LIPI)

Salah satu genre yang dimiliki oleh drama Korea (drakor) adalah kolosal atau sageuk (사극 dibaca sa.guk). The Story of Chun-hyang merupakan film sageuk pertama Korea yang disutradarai oleh Koshu Hayakawa pada tahun 1923 . Sebelum era 2000an, kisah yang diangkat lebih banyak merujuk pada peristiwa sejarah, tokoh legendaris, konflik kerajaan, dan peperangan. Tema-tema seperti ini menarik minat penonton dari generasi yang lebih tua. Akan tetapi, panjangnya episode (lebih dari 70), alur cerita rumit, aktor yang terlalu tua, dan gaya bahasa kuno membuat penonton dari generasi muda merasa jenuh dan bosan . Meskipun memiliki akurasi sejarah yang cukup tinggi, genre ini dianggap ketinggalan zaman dan tidak modern.

Memasuki tahun 2000an, industri drama di Korea mulai berbenah dengan memberikan tampilan lebih segar. Masa ini pun dikenal sebagai era kelahiran drakor fusion-sageuk. Fusion-sageuk adalah genre yang menggabungkan fakta sejarah dan karakter fiksi lalu dikemas dengan sentuhan modern. Meskipun alur cerita tidak seberat drakor sageuk, namun fusion-sageuk masih menitik beratkan pada sejarah klasik Korea. Beberapa drakor genre ini yang berhasil menarik minat berbagai kalangan seperti Dae Jang Geum (2003), Jumong (2006), Queen Seon Deok (2009), dan Dong Yi (2010). Meskipun masih berdurasi panjang (umumnya di bawah 70 episode), namun drakor ini mampu mencetak sensasi luar biasa di nasional maupun internasional.Setelah 2010, alur cerita drakor fusion-sageuk menjadi lebih ringkas. Jumlah episode pun menurun drastis menjadi rata-rata 20 episode per drama. Meskipun demikian, durasi ini masih tergolong panjang jika dibandingkan dengan drakor genre lain yang umumnya sekitar 16 episode per judul. The Moon Embracing the Sun (2012), Jang Ok-jung Living by Love (2013), dan Love in the Moonlight (2016) adalah drakor fusion-sageuk yang memiliki rating tinggi dan populer di kalangan anak muda. Cerita yang ringan, kualitas akting yang baik, aktor/artis yang rupawan, ditambah bumbu percintaan dan komedi menjadi beberapa faktor kepopuleran drakor genre ini.

Tidak hanya bertema kerajaan dan percintaan, kisah yang diangkat dalam drakor fusion-sageuk juga bervariasi. Tema perjalanan waktu misalnya dapat dilihat dari drakor fusion-sageuk Rooftop Prince (2012), Queen InHyun’s Man (2012), dan Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo (2016). Selain itu, ada pula tema fiksi spekulatif. Skenario yang ditawarkan adalah “bagaimana jika” sejarah terjadi secara berbeda dari catatan sejarah yang sebenarnya. Imaji kerajaan Korea dengan apik diangkat dalam drakor berjudul Princess Hours (2006), The King 2 Hearts (2012), The Last Empress (2018), dan The King: Eternal Monarch (2020).

Sayangnya, tidak semua drakor fusion-sageuk dieksekusi dengan baik. Meskipun menampilkan latar tradisional dengan tampilan rumah tradisional dan hanbok (pakaian tradisional Korea), namun cara berbicara dan gestur para pemain terlihat selayaknya manusia dari zaman modern. Sebagai contoh, drakor fusion-sageuk yang berseting zaman Joseon (1392-1897) kerap menunjukkan interaksi bebas antara laki-laki dan perempuan di area publik seperti berjalan bersama, bergandengan tangan, dan berpelukan.

Menurut riset Han (2004), pada zaman itu Korea menganut Naewoebŏp (內外法) yaitu aturan nilai moral Konfusianisme yang melarang kontak langsung antara laki-laki dan perempuan. Aturan ini termasuk larangan untuk bepergian bersama, bertemu di pasar, dan berada di tempat yang sama. Bahkan dalam Naewoebŏp, diatur pula pembatasan ketat terhadap aktivitas perempuan saat di luar rumah. Saat ke luar rumah, perempuan harus menutupi wajahnya menggunakan kain atau tudung demi menjaga kesucian diri dan martabat keluarga . Beberapa kalangan memang menyebut bahwa drakor fusion-sageuk berisi 90% fiksi kreatif dan sisanya berdasarkan fakta sejarah . Apa yang ditampilkan tak lebih dari imajinasi penulis skenario. Kisah sejarah yang menjadi latar dalam sebuah fiksi memang dapat ditafsirkan ulang, digubah, dan didramatisasi agar menjadi lebih menarik. Namun, dibutuhkan batas standar sejauh mana imajinasi dapat dikembangkan tanpa harus mengorbankan autentikasi sejarah. Sebab, distorsi sejarah yang terlalu besar dapat menjadikan sebuah karya tereksekusi dengan buruk. Pada akhirnya akan terjadi kebingungan bagi pemirsa karena tidak mendapat nilai edukasi sejarah dari drama yang disajikan.

Pelibatan sejarawan dalam proses produksi dapat menjadi solusi agar drakor fusion-sageuk tidak kehilangan akurasi sejarahnya. Selain itu, dukungan pemerintah Korea juga diperlukan khususnya dalam suplai arsip sejarah sebagai materi penulisan skenario. Dengan dukungan konten budaya tersebut, Korea dapat menciptakan citra nasional yang menarik sehingga mempercepat ekspor budaya. Pada akhirnya, drakor kolosal (baik sageuk maupun fusion-sageuk) dapat menjaga ingatan nasional dan menjadi warisan budaya.

***

Referensi

Han, Hee-sook. (2004). Women’s Life during the Chosŏn Dynasty. International Journal of Korean History (Vol.6, Dec.2004), hal 133-162, https://ijkh.khistory.org/upload/pdf/6_05.pdf (diakses 18 Juni2020)

Hwang, Yun Mi. (2011). South Korean historical drama : gender, nation and the heritage industry. Thesis PhD Doctor of Philosophy, https://research-repository.st-andrews.ac.uk/handle/10023/1924 (diakses 18 Juni 2020)

Ilustrasi: https://images.app.goo.gl/Zut5eQjinrUMZLr89

***

Catatan redaksi: Artikel in pertama kali diterbitkan di Kumparan.com pada 18 Juni 2020. Link artikel asli https://kumparan.com/rannyrastati/drama-korea-kolosal-dari-akurasi-hingga-distorsi-sejarah-1tdVfAkwm6v/full

Post Author: Ranny Rastati

Tinggalkan Balasan