Oleh Ranny Rastati (Peneliti PMB LIPI)

Pada Maret 2017 lalu, saya beserta sembilan orang rekan lainnya bertolak dari Jakarta menuju Toronto untuk menghadiri konferensi Association of Asian Studies (AAS) dengan sponsor dari Japan Foundation. Perjalanan yang memakan waktu hampir 24 jam itu memberikan pengalaman yang luar biasa. Betapa tidak, setelah transit tiga jam di Hongkong, kami masih harus menempuh perjalanan berikutnya selama lima belas jam, dengan total hampir 17.000 km dari tanah air.

Mendarat di Toronto Pearson International Airport, kota ini menyambut kami dengan hamparan salju yang masih tersisa. Bagi orang yang tinggal di wilayah ekuator dengan suhu harian rata-rata 28-30 derajat celcius, pengalaman melihat salju selalu menjadi hal yang istimewa. Seperti yang kerap saya lihat dalam film, kepingan salju itu sejatinya memiliki bentuk bermacam-macam seperti jarum, prisma, dan bintang.

Untuk menuju hotel, kami menaiki Union Pearson Express (UP Express), sebuah kereta yang menghubungkan terminal satu bandara hingga Union Station sebagai pemberhentian terakhir. Bermodalkan dua belas Dollar Canada (sekitar Rp121.000), dan waktu tempuh 25 menit, tibalah kami di downtown Toronto. Downtown Toronto sendiri adalah sebuah pusat bisnis yang terletak di Toronto, Ontario. Distrik ini diisi dengan gedung pencakar langit terbanyak ketiga di dunia setelah New York dan Chicago.

Pemandangan di Downtown Toronto (Dokumentasi: Ranny Rastati)

 

Hotel kami terletak hanya tiga ratus meter dari Union Station. Meskipun berjalan kaki sekitar lima menit, udara dingin dan malam yang menusuk kulit membuat kami bergegas menuju hotel untuk menghangatkan diri. Beruntung, tidak butuh waktu lama untuk menemukan arah menuju hotel.

Bermalam di zona waktu yang lebih lambat sebelas jam dari Jakarta, secara biologis tubuh mencoba  menyesuaikan diri dengan perbedaan yang ada. Waktu Subuh baru masuk pada pukul 05.30 pagi, sementara pada pukul tujuh pagi matahari baru beranjak naik perlahan-lahan. Hari pertama rasanya cukup kewalahan karena malam terasa pagi dan pagi terasa malam. Mujur, pada malam pertama di Toronto saya dapat terlelap tanpa kendala yang berarti. Menikmati pagi di downtown Toronto, mata disuguhi pemandangan berupa bangunan yang berblok-blok sehingga tidak perlu khawatir tersesat karena setiap jalan saling berhubungan. Distrik ini tidak melulu hanya menyuguhkan aura bisnis, aroma turistik juga mudah ditemui berbagai di sudut kota. Sebut saja Canadian National Tower atau CN Tower, Ripley’s Aquarium of Canada, Toronto City Hall, dan Old City Hall.

CN Tower (Dokumentasi: Ranny Rastati)

Terletak sekitar tujuh ratus meter dari Union Station, CN Tower dapat ditempuh berjalan kaki selama lima belas menit. Namun, sesungguhnya pengunjung kerap memakan waktu lebih lama karena menyempatkan diri berfoto di titik-titik menarik sepanjang York Street dan Bremner Boulevard. Jalanan, keramaian kota, dan aktivitas warga lokal menjadi panorama yang unik untuk diabadikan dalam sebuah lensa.

CN Tower yang menjadi ikon Toronto ini memiliki tinggi 553.3 meter. Sejak diresmikan pada tahun 1976, CN Tower menjadi tower tertinggi di dunia sebelum kemudian digantikan oleh Canton Tower (RRT) pada tahun 2008 dan Burj Khalifa (UAE) pada tahun 2010. Tidak hanya melihat kota dari atas ketinggian, melalui CN Tower pun kita dapat menyaksikan keindahan Matahari terbenam. Jangan khawatir, jam operasional tower ini dimulai pada pukul 9 pagi hingga 10.30 malam. Waktu yang panjang untuk bersantai tanpa terbelenggu oleh rezim waktu.

Bersebelahan dengan CN Tower, terdapat Ripley’s Aquarium of Canada yang dioperasikan oleh Ripley Entertainment. Tentu hampir semua orang mengenal Ripley Entertainment lewat salah satu programnya, yaitu Ripley’s Believe It or Not. Akuarium publik ini menawarkan eksibisi akuatik 16.000 satwa laut melalui sembilan galeri yaitu Canadian Waters, Rainbow Reef, Dangerous Lagoon, Discovery Centre, The Gallery, Ray Bay, Planet Jellies, Life Support Systems, dan Shoreline Gallery. Tampak banyak anak sekolah dan rombongan keluarga yang mengunjungi akuarium raksasa ini. Tiba-tiba saya terkenang Sea World, akuarium di Jakarta yang menjadi memori masa kecil bersama keluarga dan sahabat.

 

 

Sekitar 1.4 kilometer dari CN Tower dan Ripley’s Aquarium of Canada, kita dapat mengunjungi Toronto City Hall dan Old City Hall. Jarak yang cukup jauh itu tak terasa melelahkan meskipun ditempuh dengan berjalan kaki. Jika tak kuat dengan udara dingin, ada jalur pejalan kaki bawah tanah bernama PATH yang dapat menjadi pilihan. PATH yang beroperasi sejak 1987 adalah jalur pertokoan sepanjang 30 kilometer yang menyediakan berbagai pilihan tempat belanja. Tidak hanya itu, PATH juga terhubung dengan subway atau kereta bawah tanah dan lebih dari 50 gedung di area downtown Toronto.

Tiba di Toronto City Hall, kita akan menemukan bangunan bergaya arsitektur modern. Landmark  huruf TORONTO ini berada satu area dengan Nathan Phillips Square. Setiap huruf nampak nampak mencolok dengan pilihan warna yang bermacam-macam. Menurut saya, tempat ini layak menjadi salah satu wajib berfoto, atau bisa disebut “Jangan bilang pernah ke Toronto kalau belum berfoto di sana”.

Mandatory Picture di Toronto City Hall (Dokumentasi: Istimewa)

 

Di depan landmark TORONTO tersedia arena skating yang beroperasi pada bulan November hingga Maret. Arena seluncur es ini bahkan tetap beroperasi pada malam Natal dan tahun baru. Pada musim panas, arena es pun berubah menjadi kolam yang dapat menjadi tempat menyejukkan diri dari hangatnya mentari. Kontras dengan Toronto City Hall, Old City Hall yang berada tak jauh dari Toronto City Hall menawarkan arsitektur bergaya arsitektur Romanesque Revival. Digunakan sejak 1899, Old City Hall masih berfungsi sebagai pengadilan hingga sekarang.

Beruntung pula, lokasi konferensi yang berada di Hotel Sheraton ini terletak di tengah seluruh objek wisata tersebut. Waktu rehat konferensi pun dimanfaatkan untuk berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Hanya dengan berjalan kaki selama 5-15 menit, kita dapat menjangkau berbagai sudut yang Instagramable.

Pembukaan Konferensi AAS 2017 (Dokumentasi: Ranny Rastati)

 

Ada berbagai hal menarik yang terjadi selama konferensi. Kesempatan bertemu dengan berbagai akademisi dan ilmuan seluruh dunia, mendapat isu terkini yang disajikan di setiap panel, dan bertemu beberapa professor bidang studi Asia pun mewarnai setiap kegiatan. Yang paling berkesan bagi saya adalah berkenalan dengan Ian Condry, professor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Anne Imamura, professor dari Georgetown University. Bagi saya, keduanya adalah legenda di kalangan studi Jepang karena buku-bukunya yang banyak menginspirasi. Beberapa di antaranya adalah The Soul of Anime: Collaborative Creativity and Japan’s Media Success Story yang ditulis oleh Ian Condry dan Urban Japanese Housewives: At Home and in the Community oleh Anne Imamura. Setelah bercakap-cakap sejenak, saya pun menyempatkan diri untuk saling tukar kartu nama, berfoto dan meminta tanda tangan mereka.

Konferensi AAS merupakan pertemuan studi Asia terbesar yang diselenggarakan di Amerika Utara. Dengan panel berjumlah 370, konferensi tahunan ini dihadiri oleh lebih dari 3.000 peserta yang berasal dari seluruh dunia. Selain presentasi, ada pula ekspo film dan pameran buku. Saya merasa agak kewalahan karena durasi empat hari terlalu sebentar untuk menjajal seluruh sajian yang diberikan.

Pameran Buku di AAS Toronto (Dokumentasi: Ranny Rastati)

 

Pada malam terakhir konferensi, saya diundang makan malam oleh Japan Foundation di JW Marriot Hotel bersama puluhan penerima sponsor yang berasal dari berbagai wilayah seperti ASEAN, RRT, Korea Selatan, dan India. Kesempatan ini tentu sangat berharga karena dapat mempeluas jejaring dengan para Japanologis atau orang-orang yang melakukan studi tentang Jepang. Sebagai orang yang mendalami studi Jepang sejak 2004, pertemuan ini tidak hanya menambah relasi, tapi juga memperoleh informasi terkini yang sedang hangat dibicarakan.

Bersama rekan-rekan penerima sponsor Japan Foundation (Dokumentasi: Istimewa)

 

Pengalaman mengikuti konferensi di Toronto tidak hanya menambah referensi aroma sebuah kota yang belum pernah dikunjungi, tapi juga lingkaran pergaulan akademis yang semakin meluas. Selain bertemu dengan peneliti dari berbagai negara, kesempatan berkenalan dengan para legenda studi Asia membuat pengalaman ini menjadi salah satu memori yang  menakjubkan. (Editor: Ibnu Nadzir)

 

____________________________

TENTANG PENULIS

Ranny Rastati yang akrab disapa Chibi, menyelesaikan pendidikan sarjana jurusan Sastra Jepang pada tahun 2008 dari Universitas Indonesia dan magister Ilmu Komunikasi pada tahun 2011 dari universitas yang sama. Bergabung di PMB LIPI pada tahun 2015 sebagai kandidat peneliti Ilmu Komunikasi. Buku yang pernah ditulis berjudul Ohayou Gozaimasu: Simpel dan Cepat Kuasai Bahasa Jepang (Penerbit PandaMedia, 2014) dan biografi K-POP berjudul Daehan Minguk Manse: Bukan Satu, Bukan Dua, Tapi Tiga (Penerbit Fantasious, 2015). Sejak 2013 aktif di Chibi Ranran Help Center (organisasi nonprofit untuk kegiatan amal dan sosial). Tahun 2016 membuat program media literasi dan etika berinternet di Instagram @chibiranranhelpcenter. Bidang kajian yang ditekuni terutama hijab cosplay, media baru, dan cyberbullying. Alamat email: chibi_ranran@yahoo.com.