Pasar Ekstrim, Hewan Liar, dan Tradisi: Catatan Lapangan

Oleh Wahyudi Akmaliah (Peneliti PMB LIPI)

Setelah perjalanan dua jam dari Bandara Internasional Sam Ratulangi, sekitar jam 18.00, saya dan seorang teman sampai di Hotel Leos pada 26 November 2017. Melalui staf hotel, saya diberitahu bahwa lokasi hotel ini persis di depan Pasar Tomohon Beriman yang kerapkali diliput oleh media massa, televisi, dan media online. Pemberitaan ini yang kemudian menjadi perbincangan orang. Jarak antara hotel dan pasar yang dijuluki sebagai Pasar Ekstrim ini hanya sepelemparan batu, di mana terminal menjadi penghubung dua tempat tersebut. Usai sarapan pada 27 November 2017, bersama dengan rekan dari UIN Syarif Hidayatullah, saya menuju pasar tradisional tersebut. Saat memasuki pasar itu, saya melihat pasar ini sama dengan pasar tradisional lainnya, berisi orang berjualan macam-macam sayur dan daging. Namun semakin dalam, saya justru mendapatkan suatu hal yang berbeda suasana dan jualannya dibandingkan dengan pasar tradisional lain yang saya kenal di Pulau Jawa.

Dagangan pertama saya lihat di sana adalah tumpukan anjing berwarna hitam yang sudah dibakar menggunakan semburan gas.  Saat melihat itu, saya beruntung karena bisa melihat langsung bagaimana pedagang mematikan seekor anjing dengan memukul kepalanya dengan linggis. Setelah dipukul hingga sekarat, anjing tersebut kemudian ditaruh di atas kurungan besi yang di bawahnya sudah ada tiga ekor anjing menunggu ajal berikutnya. Pengalaman tersebut saya rekam sebagai cara untuk menghindari rasa mual yang mulai berontak dalam perut saya ketika pedagang menggunakan semburan gas dengan besi tajam membakar anjing tersebut. Tubuhnya sedikit bergerak dengan helaan nafasnya yang masih terlihat.  Saya kemudian makin masuk ke dalam dan melihat lebih detail aneka daging yang lain. Misalnya, kelelawar, babi (baik babi hutan ataupun peliharaan), tikus, dan ular piton. Melalui pedagang daging babi saya diberitahu bahwa di seberang pedagang anjing ada pedagang kucing. Dengan antusias, sambil menahan rasa mual, saya pun langsung menuju pedagang yang menjual kucing.

Saya sempat berbincang-bincang dengan para pedagang di pasar tradisional tersebut. Menurut salah satu pedagang saya datang tidak tepat waktu. Pasar ini dengan aneka daging yang lebih kaya justru ramai pada hari Sabtu. Kebanyakan binatang-binatang liar tersebut justru datang dari Gorontalo, Palu, dan bahkan Makassar, yang kemudian dijual oleh pedagang di sini. Daging-daging ini harganya variatif. Untuk membeli satu kilo daging babi peliharaan atau ternak, pengunjung harus mengeluarkan uang Rp. 50 ribu, sementara Rp. 30 ribu untuk daging babi hutan. Saya sempat bertanya mengapa babi hutan lebih murah ketimbang babi ternak. Apalagi kita tahu bahwa makanan babi hutan ini merupakan organik dari rempah-rempah yang terdapat di hutan. Di lain pihak, panganan babi ternak biasanya dibantu oleh proses kimiawi agar cepat gemuk seperti ayam negri yang selama ini dipelihara. Menurut pedagang, babi ternak lebih mahal karena dipelihara dan membutuhkan uang yang tidak sedikit. Harga yang paling mahal justru kucing. Satu ekor anak kucing bakar yang mulai dewasa itu dihargai Rp.100 ribu.

Sumber: http://inimanado.blogspot.com/2016/04/butuh-nyali-besar-untuk-masuk-pasar.html

Di tengah arus modernisasi yang menguat di Indonesia, mengapa masih ada sekelompok masyarakat yang memperdagangkan dan memakan hewan liar (mushmeat)? Menurut liputan wartawan Kompas, Budi Suwarna dan Pingkan Elita Dundu, tradisi memakan hewan liar ini sebenarnya sama tua usianya dengan asal-usul manusia modern. Diyakini oleh Paleontropolog dan ahli genetika muncul di Afrika sejak 200.000 tahun lalu. Tradisi ini kemudian menyebar pelbagai penjuru, seperti Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. Mereka ini bergerak selama ribuan tahun menyusuri gunung dan padang mengikuti kawanan hewan yang bisa diburu untuk dimakan. Tradisi yang dibawa oleh leluhur mereka ini masih bertahan di sebagian masyarakat Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Dalam konteks Minahasa, menurut catatan Elizabeth L Bennett, 36 persen daging hewan yang dikonsumsi di 17 desa pada tahun 2000 berasal dari hutan (Suwarna dan Dundu, 19 Desember 2013).

Selain tradisi sejarah yang panjang, ada dua hal yang mesti dilihat mengapa makan hewan liar masih kuat di Tomohon. Pertama, adanya sumber-sumber alam yang masih tersedia. Kehadiran tiga gunung yang mengelilingi kota Tomohon dan adanya hutan lebat menyediakan pasokan hewan liar untuk penduduk Tomohon. Hewan liar ini menjadi protein tinggi dan tradisi hidup sebagai orang yang hidup di sekitar gunung dan hutan. Kedua, tidak adanya intervensi agama. Dengan mayoritas agama Kristen hampir sekitar 70 %, institusi agama, tampaknya, tidak melarang orang Minahasa untuk memakan hewan liar tersebut. Di sisi lain, semakin modernitas, dan, di satu sisi, pasokan hewanan liar makin sedikit dan langka, tradisi makan hewan liar ini kemudian menjadi semakin kuat dan gengsi sendiri bagi orang-orang Tomohon yang memakannya (Suwarna dan Dundu, 19 Desember 2013).

Tradisi ini sempat dikecam oleh komunitas pecinta dan aktivis binatang, khususnya dari Yayasan Selamatkan Yaki, monyet hitam berjambul ini menjadi salah satu favorit makanan hewan liar untuk orang Minahasa dan Tomohon. Ini karena Yaki salah satu hewan langka yang harus dilindungi seiring dengan menurunya populasi hewan tersebut. Kampanye ini relatif berhasil di tengah menurunya pasokan daging tersebut yang dijual oleh para pedagang di pasar tradisional. Namun, kampanye tersebut tidak menyurutkan masyarakat untuk terus menghidupi tradisi memakan hewan liar lainnya (Debora, 15 April 2017). Terbukanya jalur pesawat yang menghubungkan kota Manado dengan kota-kota internasional lainnya sebagai jalur wisata laut dan darat, Pasar Ekstrim ini justru makin menarik wisatawan untuk datang melihat dan mencicipinya.

Melihat secara langsung tradisi memakan hewan liar yang diperjualbelikan di Pasar Tomohon Beriman ini membuat saya mengerti bahwa Indonesia itu bukan hanya Pulau Jawa dengan tradisi keagamaan Islam, melainkan memiliki tradisi dan kekayaan lain yang berbeda. Kota Tomohon menunjukkan kekayaan itu. Memang, ada banyak dari kita yang mungkin tidak suka, tapi ini tradisi yang tumbuh dalam masyarakat di tengah keberlimpahan gunung dan hutan yang mereka miliki. Di tengah tradisi itu, mereka tetap menjaga perdamaian antara umat beragama. Perdamaian ini terlihat dari minimnya konflik keagamaan yang terjadi, meskipun rejim Orde Baru runtuh dan mengubah peta oligarki yang memungkinkan orang-orang kuat lokal bisa tumbuh dan menguasai sejumlah sumber-sumber ekonomi. (Editor Ranny Rastati)

 

Daftar Pustaka

Gambar unggulan https://www.foody.id/article/15-makanan-ekstrim-dari-seluruh-dunia-bikin-jijik-dan-ngeri-1646

Suwarna, Budi dan Pingkan Elita Dundu (2013), “Makanan Minahasa, Ketika Tikus Mengalahkan Sapi”, www.kompas.com, 19 Desember 2017, dikutip dari https://travel.kompas.com/read/2013/12/19/0841079/Makanan.Minahasa.Ketika.Tikus.Mengalahkan.Sapi, pada 29 November 2017.

Deborah, Yantina, “Monyet Selfie Sulawesi Terancam Punah”, Tirto.id, 15 April 2017, dikutip dari https://tirto.id/monyet-selfie-sulawesi-terancam-punah-cmq2, pada 29 November 2017.

_______________________________________

TENTANG PENULIS

Wahyudi Akmaliah adalah peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK, sebelumnya PMB) LIPI. Ia menyelesaikan S1 di jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (2003), melanjutkan jenjang S2 di dua kampus yang berbeda; bidang Kajian Budaya di Universitas Sanata Dharma (2008) dan International Peace Studies di University for Peace, Costa Rica. Selama di LIPI, ia mendalami dua tema riset, yaitu Kekerasan dan Politik Ingatan serta Kajian Budaya dengan memfokuskan kepada Islam, Identitas, dan Budaya Populer. Untuk korespondensi, Ia dapat dihubungi melalui surat elektronik (email), wahyudiakmaliah@gmail.com.

 

 

 

Post Author:

Tinggalkan Balasan