Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK-LIPI) dan Koninklijk Instituut voor tall, Land Volkenkund (KITLV) Belanda melaksanakan kegiatan Public Lecture dengan judul “Moluccans in the Netherlands Migration and Culture” yang dipresentasikan oleh Prof. Fridus Steijlen dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, yang dimoderatori oleh Ibnu Nadzir, M.Sc.

Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh para peneliti dari P2KK LIPI tapi juga dari Pusat Penelitian Ekonomi, Pusat Penelitian Sumber Daya Regional dan Pusat Penelitian Politik LIPI. Kegiatan dibuka oleh moderator dan dilanjutkan dengan presentasi dari Prof. Fridus.  Pembukaan presentasi tentang Spices and Colonialism; From Spice Selfier to Soldier and Teacher. Dijelaskan bahwa sejarah masuknya Belanda ke Ambon (Mulacca) dengan tujuan rempah–rempah seperti cengkeh dan pala. Selain itu juga dilakukan penyebaran agama Kristen oleh tenaga pengajar atau guru yang berlangsung pada abad ke 17 dan 18.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, ada sekitar 4.000 orang mantan prajurit Koninklijkk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia asal Maluku yang dibawa ke Belanda. Itulah sejarah mengapa orang Maluku ada dan berkembang di Belanda sampai sekarang.

Presentasi diakhiri dengan penjelasan identitas yang terdapat pada orang Ambon di Belanda adalah adat, agama, bahasa, dan simbol RMS. Identitas yang paling dominan bagi generasi pertama adalah identitas RMS yang berlangsung sampai pada tahun 70an. Konsep identitas generasi kedua dan ketiga sudah berubah. Generasi ini melakukan perubahan hidup dengan bermusik dan bekerja di berbagai sektor. Kini, para diaspora asal Maluku menganggap diri mereka sebagai bagian dari masyarakat Belanda namun tidak melepaskan warisan budaya Maluku. (Luis Feneteruma/Editor Ranny Rastati)