Oleh Lingga Utami (Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia)

Sejak masa penjajahan, wilayah Desa Cikidang dan Kampung Cikareumbi merupakan garis depan pertahanan pertempuran antara bangsa Indonesia dengan Belanda dan Jepang. Akibatnya, pada periode tersebut masyarakat Cikareumbi mengungsi ke Kabupaten Subang. Setelah kembali dari pengungsian, dalam masa-masa sulit para Karuhun Kampung Cikareumbi memulai ritual ruwatan lembur yang merupakan proses ngaruat, ngarawat, ngaleungitkeun ruruwet (membersihkan, merawat, menghilangkan hambatan). Penduduk setempat meyakini bahwa adanya ritual ruwatan lembur menjadikan penjajah tidak pernah kembali lagi ke Kampung Cikareumbi. Sejak saat itulah ritual ruwatan lembur dilaksanakan oleh masyarakat Sunda Kampung Cikareumbi.

Pelaksanaan ritual ruwatan lembur dilaksanakan di Gunung Hejo Pasir Luhur tepatnya di tempat mata air yang secara wilayah merupakan milik masyarakat Kampung Cikareumbi. Di tempat tersebut dilakukan penumbalan hewan kambing dan ayam dengan mengubur kepala dan kaki kedua hewan tersebut. Aktivitas ini memiliki makna yang sangat erat dengan pekerjaan masyarakat Kampung Cikareumbi yang sebagian besar bekerja sebagai petani. Selain sebagai wujud syukur pada yang maha kuasa,Seda ritual ini juga memiliki fungsi tolak bala atau memberikan keselamatan terhadap masyarakatnya.

                                                  Rangkaian Acara Ruwatan Lembur (Dok: Pribadi)

 

Dalam kegiatan ritual ruwatan lembur terdapat nilai adat yang disebut Sapitong yang merupakan akronim dari sauyunan , sapikiran, dan gotong royong. Sauyunan berarti babarengan atau bersama-sama. Artinya, ketika ada satu persoalan bersama, pemecahannya harus dimusyawarahkan bersama-sama. Dalam proses musyawarah tersebut diupayakan tidak ada pihak yang dominan. Sebab semua individu anggota masyarakat kampung Cikareumbi memiliki hal dan kewajiban yang sama dalam membangun dan mengembangkan kampung Cikareumbi. Sapikiran artinya memiliki kesamaan pikiran, kesamaan rasa, dan kesamaan tujuan, yaitu untuk membangun Kampung Cikareumbi agar jadi lebih baik. Lebih luas lagi, makna sapikiran juga menjadi sebuah patokan atau batasan bagi masing-masing diri individu anggota masyarakat kampung Cikareumbi agar tidak keluar dari norma-norma serta menghindari adanya konflik. Oleh karena itu, penduduk diharapkan tidak menentang suatu kesepakatan yang telah dirumuskan dan disepakati sejauh hal tersebut tidak bersifat destruktif terhadap kampung Cikareumbi. Sedangkan, gotong royong berarti mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Makna yang terkandung tidak jauh berbeda dengan istilah sauyunan, namun gotong royong lebih cenderung menekankan pada hal-hal yang sifatnya fisik atau konkret Perwujudand nilai ini dapat dilihat dari keterlibatan seluruh warga kampung dalam prosesi ruwatan lembur.

Nilai-nilai ini menjadi norma yang dianut oleh masyarakat kampung Cikareumbi, oleh karena itu  makna sapitong diinternalisasi dalam seluruh rangkaian ruwatan lembur. Dalam konteks ini, sapitong maupun ruwatan lembur dapat dilihat sebagai upaya nyata dalam proses pemeliharaan, pelestarian serta pengembangan adat istiadat masyarakat kampung Cikareumbi.

Nilai sapitong di dalam masyarakat kampung Cikareumbi sangatlah penting sekali sehingga masyarakat Cikareumbi mempertahankannya meskipun zaman sudah memasuki era modernisasi. Dengan tetap menjalankan ruwatan lembur, penduduk kampung Cikareumbi dapat tetap menginternalisasi nilai-nilai sapitong pada generasi yang lebih muda. Pewarisan nilai-nilai ini menjadi penting karena keberadaan nilai-nilai kolektif menjadi pengikat dari kelompok masyarakat manapun. Dalam konteks masyarakat Cikareumbi, sapitong menjaga masyarakat kampung agar tidak menjadi warga yang bersifat individualistik. (Editor: Ibnu Nadzir)

_________________________________________

TENTANG PENULIS

Penulis bernama Lingga Utami, dilahirkan di Bandung pada tanggal 12 Agustus 1993. Penulis saat ini merupakan mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Program Studi Pendidikan Sosiologi. Penulis bekerja sebagai asisten dosen bidang penelitian di Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia. Penulis juga aktif di Indonesia Bermutu sebagai peneliti dan Jurnalis Mahasiswa Pendidikan Sosiologi sebagai Steering Committee dan Asosiasi Pendidik, Peneliti Pendidikan Sosiologi se-Indonesia. Email : utamilingga@gmail.com