Dinamika Orang Hadrami di Indonesia

Tidak banyak yang mengetahui jika 90% keturunan Arab yang berada di Indonesia berasal dari kota Hadramaut, Yaman Selatan. Orang-orang Hadhrami (sebutan untuk penduduk Hadramaut) ini berdatangan ke Nusantara pada sekitar abad 13. Bertujuan untuk berdagang dan berdakwah, orang-orang Hadhrami berangsur-angsur menetap dan berkeluarga dengan penduduk setempat. Beberapa keturunan Arab Hadramaut yang teridentifikasi antara lain dari marga Assegaf, Alatas, dan Sungkar, Bawazier dan masih banyak lainnya. Sejak zaman perjuangan kemerdekaan, keturunan Arab Hadramaut banyak yang menjadi pejuang dan ulama terkemuka. Beberapa di antaranya adalah beberapa Wali Songo, Imam Bonjol, Sultan Hamid II (Perancang Lambang Garuda), Husein Mutahar (Penyelamat Bendera Pusaka), AR Baswedan, Ali Alatas, Alwi Shibab dan Anies Baswedan.

Memahami pentingnya peranan Hadhrami di Indonesia, maka Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK-LIPI), bekerjasama dengan Hadhramaut Center Pusat Riset Sejarah, Dokumentasi dan Publikasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama (Balitbang Kemenag), dan Menara Center akan mengadakan seminar internasional bertema “International Conference on The Dynamics of Hadhramis in Indonesia” pada 22-23 November 2017 bertempat di Royal Kuningan Hotel Jakarta. Seminar internasional bertemakan Hadhrami pertama di Indonesia ini bertujuan mensosialisasikan atas peran Hadhrami baik untuk publik Indonesia maupun internasional. Untuk itu kami mengundang Prof. Azyumardi Azra, CBE (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia), Prof. Fareed Alatas (National University of Singapore, Singapura), Dr. Martin Slama (University of Vienna, Austria), dan Dr. Huub de Jonge (Radboud University, Belanda) sebagai keynote speakers.

Konferensi Internasional yang akan diselenggarakan tanggal 22-23 Nopember 2017 di Park Royal Hotel, Kuningan Jakarta ini mengambil tema Dinamika Orang Hadhrami di Indonesia (The Dynamics of Hadhramis in Indonesia). Konferensi internasional ini diselenggarakan atas kerjasama berbagai lembaga. Pertama, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), The Indonesian Institute of Sciences, dan the Hadhramaut Center for Historical Research Documentation and Publication, Menara (Study and Research Center of Arab Descents in Indonesia), dan Balai Litbang Agama Jakarta, Kementerian Agama RI.

Menteri Agama RI sedang memberikan keterangan kepada pers terkait seminar internasional Hadhrami

Tujuan konferensi internasional ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang dinamika orang Hadhrami di Indonesia dalam berbagai bidang, mulai dari sosial, budaya, ekonomi dan politik. Sebagaimana diketahui dari berbagai literatur, orang Hadrami adalah cerita tentang sejarah migrasi, akulturasi, perdagangan dan penyebaran Islam, serta nasionalisme, dan juga
sejarah tentang globalisasi.

Peranan orang Hadhrami dalam sejarah Indonesia telah dipelajari oleh beberapa ilmuwan seperti Van den Berg (1887), Mobini-Kesheh (1999), Freitag dan Clarence-Smith (1997), Feener (2004), Slama (2005, 2011, 2012, 2014), de Jonge (2004), Manger (2010), Bamualim (2011) dan Sila (2005, 2015). Dalam bukunya, Hadhrami Arabs in Present-Day Indonesia, misalnya, Frode Jacobsen (2009) mengidentifikasi dan menggarisbawahi bahwa orang Hadhrami adalah “kelompok yang berorientasi pada Indonesia dengan tanda tangan Arab”. Identitas ini sejalan dengan kesimpulan dari Feener (2004) dalam Hybridity of Hadhramit Identity in Indonesia. Manger (2010) dalam bukunya yang berjudul Hadrami Diaspora beresonansi bahwa meskipun identitas mereka beragam, orang Arab Hadrami dikenal baik sebagai pedagang dan misionaris religius, dan mereka tetap mempertahankan ini di diaspora. Seperti yang dikemukakan oleh para ilmuwan tersebut, kisah orang Hadhrami di Indonesia umumnya merupakan kisah sukses. Tidak hanya dalam agama, tapi juga dalam perdagangan, pendidikan, publikasi, dan bahkan politik. Mereka bernasib baik dan menikmati prestise di masyarakat karena hubungan leluhur mereka dengan pembawa Islam awal di Indonesia.

Masyarakat Hadrami, secara historis, termasuk di antara mereka yang mengenalkan gagasan modernisme dan reformasi Islam di Indonesia. Mereka menciptakan dan mengembangkan berbagai pendidikan Islam dan gerakan keagamaan, seperti Al-Irsyad dan Jamiat al-Khair, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap revolusi Indonesia. Kenaikan arus sejumlah orang Hadhrami ke pusat dinamika politik dan ekonomi Indonesia, bagaimanapun juga adalah sesuatu yang relatif baru dan perlu dipelajari dalam konteks globalisasi dan sejarah orang Hadhrami pada umumnya. Kegiatan politik keluarga Shihab, Baswedan, Alatas, dan keluarga Hadhrami lainnya, misalnya, juga penting dalam konteks politik identitas. Dilatari oleh dinamika orang Hadhrami saat ini, konferensi internasional ini bermaksud membahas spektrum orang Hadhrami yang lebih luas di Indonesia.

Beberapa fokus dari konferensi internasional ini antara lain adalah: 1) Untuk memperkuat persatuan Indonesia dengan memahami keragaman etnis, terutama orang-orang dari negara asal Arab, 2) Memahami peran sosial, politik, sejarah, budaya, agama, dan ekonomi masyarakat Hadhramis di masyarakat Indonesia, 3) Mendiskusikan bangkitnya politik identitas dalam konteks globalisasi dan pengaruhnya di Indonesia, 4) Untuk mencegah terjadinya konflik sosial dari perbedaan etnis dan agama.

Pers cinference para steering committe bersama awak media

Dalam konferensi internasional ini, menurut Ketua Panitia, Dr Najib Burhani, secara khusus akan dibahas 6 tema yaitu:
1) Peran Keagamaan dan pengaruh Hadhrami di Indonesia;
2) Diaspora orang Hadhrami;
3) Politik Kontemporer dan Nasionalisme orang Hadhrami;
4) Identitas Budaya orang Hadhrami, yang meliputi bahasa, musik, seni, sastra, makanan, dan pakaian;
5) Identitas Sosial, meliputi pernikahan dan sistem kekeluargaaan serta hubungannya dengan masyarakat lokal;
6) Kontribusi orang Hadhrami dan aktivitasnya dalam bidang perekonomian, bisnis, pendidikan dan penerbitan di Indonesia.

Selain bisa memberikan kontribusi akademik, kehadiran Seminar Internasional ini diharapkan bisa menjadi pengetahuan baru, untuk masyarakat Indonesia, terkait dengan orang-orang Hadhrami yang sudah menetap lama dan menjadi bagian dari Indonesia serta bagaimana interaksinya dengan masyarakat sekitar. Konferensi internasional ini mengundang para sarjana,
baik dalam dan luar negeri melalui Call for Paper dengan proses seleksi abstrak. Konferensi Internasional diharapkan tidak hanya memperkuat kelembagaan LIPI melalui riset-risetyang sudah dihasilkan, khususnya dalam bidang sosial dan humaniora melainkan juga memperkuat jaringan dengan sarjana internasional. Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Sri Sunarti Purwaningsih, Ketua Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK) LIPI sebagai tuan rumah acara, “kita berharap konferensi ini bisa memperkuat riset-riset yang sudah ada di LIPI dan bisa bangun kerja sama riset dengan sarjana-sarjana internasional terkait dengan studi-studi Agama dan Hadrami”.

Peranan orang-orang Hadhrami di Indonesia, dalam segala aspek, seperti migrasi, politik, ini juga konferensi pertama di Indonesia. Karena Hadhrami di Indonesia sangat penting dalam banyak hal. Peranannya perlu disosialisasikan untuk publik Indonesia dan internasional. Hanya saja, meski peranan mereka penting, studi tentang orang-orang Hadhrami masih kurang dikaji. Konferensi internasional ini diharapkan bisa mengisi kekosongan itu dan semoga semakin memantik studi-studi lebih lanjut yang lebih komprehensif. (Hadhrami Conference Committee/ Editor Ranny Rastati)