Oleh Luis Feneteruma

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK-LIPI) bersama  Penerbit MIZAN  mengadakan kegiatan diskusi buku berjudul Tadarus Buku: Islam Tuhan Islam Manusia pada 9 Juni 2017. Kegiatan ini bertempat di Auditorium lantai dua Gedung Widya Graha LIPI. Pada diskusi buku ini ada tiga narasumber yang hadir sebagai pembicara yaitu A.Moqsith Ghozali, Yudi Latif, dan Wahyudi Akmaliyah serta narasumber utama dan sekaligus penulis buku “Islam Tuhan Islam Manusia” yaitu Dr. Haidir Bagir (Pendiri Gerakan Islam Cinta) yang dimoderatori oleh Putut Widjanarko.

Diskusi dibuka oleh moderator kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari Dr. Haidar Bagir. Ia menjelaskan tentang latar belakang buku, proses penulisan, dan pembagian bab dalam buku tersebut. Dr. Haidar Bagir mengatakan proses pembuatan buku ini dimulai dari mengumpulkan semua tulisannya sejak pertama kali ia menulis. Meskipun ada banyak sekali tulisan, tetapi ia memilih tiga puluh tulisan yang memiliki benang merah agar menjadi satu kemudian. Selain itu ia juga membuat tulisan baru sebagai pelengkap buku.

Buku Islam Tuhan Islam Manusia ini terdiri dari lima bab. Bab pertama menjelaskan mengenai masalah dan problem dunia. Bab dua menjelaskan mengenai khazanah, kemudian bab tiga menjelaskan dialog intra Islam. Pada bab empat menjelaskan pendekatan dialog antar agama, peradaban, dan budaya. Bab lima yang merupakan bab terakhir berisikan solusi, spiritualisme, dan Islam cinta.

Setelah penjelasan singkat dari Dr. Haidar Bagir, kegiatan dilanjutkan dengan tanggapan tentang buku oleh para narasumber. Tanggapan pertama dari Wahyudi Akhmaliyah yang penjelasannya dimulai dari perkembangan Islam di Indonesia pasca Orde Lama-Orde Baru-Reformasi dan Islam di era perkembangan teknologi media sosial saat ini. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan sudut pandang buku Islam Tuhan Islam Manusia bahwa ada tiga faktor penting dalam melihat buku tersebut. Pertama, persoalan level internasional yang selama ini terjadi, baik dalam konteks stabilitas keamanan maupun sosial, ekonomi, dan politik dimana perebutan kekuasaan ekonomi menyebabkan terjadinya perang. Kedua, menguatnya radikalisme dan takfirisme (tuduhan kafir) dunia internasional yang berimbas dan menyebar dalam praktek keagamaan di Indonesia. Ketiga, Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) yang berdampak pada kehidupan serta serapan informasi oleh masyarakat. Masyarakat tidak mampu mem-filter berbagai informasi yang ada di media sosial. Sebagai penutup, Wahyudi menyampaikan bahwa buku Islam Tuhan Islam Manusia menawarkan resep kehidupan beragama.

Dokumentasi oleh Ranny Rastati (PMB LIPI)

 

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan narasumber kedua yaitu A. Mosqsiht Ghozali. Ia  menyampaikan hal menarik dalam buku Islam Tuhan Islam adalah dialog antar umat Islam yang hasilnya adalah Islam sebagai agama cinta. Hal ini terdengar mudah tetapi sulit dilaksanakan. Sebab tidak mudah mempertemukan umat Islam karena adanya perbedaan  tafsir keagamaan dan cara pandang terhadap Al-Quran. Alasan yang melatar belakangi semua itu adalah ideologi, arah, dan cita-cita yang berbeda. Untuk itu, hal penting yang sekarang dapat dilakukan oleh intelektual Muslim adalah memerangi radikalisme dan argumen radikal menggunakan argumen sejarah yang benar.

Pembicara terakhir dalam diskusi buku ini adalah Yudi Latief yang menerangkan bahwa perkembangan Indonesia sangat cepat dalam bidang Teknologi Informasi Komunikasi (TIK). Pengguna media sosial begitu banyak tetapi tidak didukung dengan tingkat pengetahuan yang baik sehingga tidak ada keseimbangan dalam menggunakan teknologi. Hal ini berbeda dengan negara yang sudah maju yang sudah memiliki budaya pengguna teknologi.

Terkait dengan buku Islam Tuhan Islam Manusia, Yudi mengatakan ada keterkaitan antara intelektual yang satu dan lainnya sehingga lingkaran intelektual itu selalu ada dan tidak berbeda jauh atau saling bersentuhan antara masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Buku tersebut penting karena memberikan pendidikan karakter yang sebenarnya, dibangun dari narative knowledge yang di dalamnya terdapat filsafat dan sejarah.

Para peserta yang hadir tidak hanya dari P2KK LIPI tapi juga dari berbagai kalangan. Beberapa pertanyaan dilontarkan, salah satunya mengenai bagaimana membangun keberagaman. Yudi Latief menjawab bahwa semua agama mempunyai akar kepercayaan, maka kita harus kembali kepada spiritualitas karena Tuhan tidak bisa didekati menggunakan nalar saintifik. (Ranny Rastati/editor)