Home Artikel Opini Babi Ngepet dan Kontradiksi Kekayaan Modern

Babi Ngepet dan Kontradiksi Kekayaan Modern

0

[Masyarakat & Budaya, Volume 18, Nomor 9, Mei 2021]

Oleh Ibnu Nadzir (Peneliti PMB LIPI)

Salah satu konten yang beredar viral beberapa hari ini, adalah penangkapan babi ngepet di Depok. Warga memang telah lama curiga akan sosok hewan gaib sebagai biang keladi dari kasus kehilangan uang. Tertangkapnya seekor babi makin menguatkan keyakinan mereka soal adanya warga yang memperkaya diri lewat perjanjian gaib. Namun, tak lama kemudian polisi mengungkap bahwa peristiwa tersebut hanya kebohongan tokoh agama setempat yang ingin tenar. Pun demikian, kehebohan soal babi ngepet ini telah mendapatkan perhatian amat luas dalam pemberitaan maupun media sosial. Di tengah perkembangan beragam instrumen investasi modern, mulai dari saham hingga mata uang kripto, keyakinan warga soal babi ngepet jadi terlihat bodoh dan irasional. Padahal, keyakinan semacam ini bertahan justru karena akumulasi kekayaan modern memiliki kegaibannya sendiri.

Kekayaan Gaib

Keyakinan tentang makhluk gaib yang dapat membantu akumulasi kekayaan penggunanya, dapat ditemukan pada banyak kebudayaan.  Kajian antropologi klasik mengenai agama di di Jawa memiliki catatan tersendiri mengenai tuyul (Geertz 1976). Hantu serupa anak kecil yang memiliki tugas seperti berkeliling mencuri uang di malam hari. Mirip warga Depok, tuduhan mengenai tuyul di wilayah Mojokuto periode 50-an diarahkan pada warga yang dicurigai tetangganya mengalami lonjakan kekayaan dalam waktu singkat. Dalam keyakinan warga setempat, para pengguna tuyul telah membuat persekutuan gaib sehingga akhirnya akan mendapat ganjaran buruk berupa proses sekarat yang menyakitkan.

Geertz tidak membahas apakah tuyul itu nyata atau rekaan. Seperti kebanyakan antropolog, ia lebih tertarik memahami fungsi keyakinan tersebut bagi masyarakat Mojokuto. Tuyul dalam hal ini membantu masyarakat untuk menjelaskan peristiwa-peristwa yang tidak dapat sepenuhnya dipahami. Keyakinan ini dapat menjawab pertanyaan misalnya tentang peningkatan kekayaan mendadak warga yang juga tidak jarang disertai perubahan sikap.

Cerita persekutuan gaib sebagai perangkat akumulasi kekayaan, bukan monopoli kelompok masyarakat Nusantara. Cerita serupa juga dapat ditemui dalam konteks Eropa pada Abad Pertengahan. Pada masa itu, ada keyakinan mengenai naga gaib yang dapat membuat perjanjian dengan manusia (Dillinger 2021). Naga ini akan berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, untuk mencuri kekayaan warga dan diberikan pada tuannya. Dalam beberapa kasus, sosok yang dicurigai bahkan dipersekusi secara terbuka oleh tetangga-tetangganya.

Meskipun hari ini terlihat irasional, keyakinan tersebut sejalan dengan asumsi masyarakat di masa itu mengenai kekayaan. Dalam satu kajian antropologi, dikemukakan bahwa bagi masyarakat agraris pra-modern, kekayaan dipandang sebagai entitas yang amat terbatas (Dillinger 2021). Implikasinya, seseorang hanya dapat menambah kekayaannya jika ia mengambil kekayaan orang lain. Jika proses pengambilan kekayaan tersebut tidak dapat terlihat secara langsung, maka entitas gaib diyakini sebagai penjelasannya.

Tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa keyakinan soal babi ngepet lahir dari asumsi yang sama soal kekayaan. Di lingkungan, tertuduh dianggap amoral bukan semata-mata karena persekutuannya dengan makhluk gaib. Namun, karena ia diyakini dengan sengaja memiskinkan orang lain untuk menambah kekayaannya tersendiri. Yang jadi pertanyaan, jika keyakinan ini hampir hilang di Eropa, apa yang menjadikannya masih bertahan di Indonesia hari ini?

Kegaiban Modern

Di Eropa, keyakinan tersebut berangsur-angsur hilang seiring dengan industrialisasi dan perkembangan masyarakat modern. Namun, keramaian Depok mengingatkan bahwa pembangunan tidak selalu berujung pada pada hilangnya keyakinan yang kuat di masa lampau. Bahkan ketika wilayahnya sudah lama meninggalkan corak agraris dan sesak pembangunan, keyakinan cerita babi gaib yang berkeliling mencuri uang masih memiliki relevansinya tersendiri.

Mungkinkah cerita ini masih bertahan justru karena proses akumulasi kekayaan modern juga punya kontradiksi-kontradiksi yang sulit dipahami? Mari kita tengok mata uang kripto sebagai instrumen investasi paling mutakhir. Layaknya babi ngepet, mata uang kripto juga bekerja dalam mekanisme yang tidak mudah untuk dipahami sekaligus tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Seperti orang pintar, para penambang uang kripto juga memiliki pengetahuan esoterik yang sulit dimengerti oleh orang awam. Seperti banyak cerita gaib, keberadaan instrumen ini juga hari ini menggelisahkan pemerintah sebagai otoritas masyarakat modern.

Walaupun demikian, tentu tidak tepat jika sepenuhnya menyamakan makhluk-makhluk gaib dengan instrumen penghasil kekayaan modern. Naga di Eropa, tuyul di Mojokuto, juga babi ngepet di Depok berangkat dari asumsi bahwa kekayaan merupakan entitas yang terbatas. Sebaliknya, sistem ekonomi modern mengandaikan bahwa kekayaan dapat terus bertumbuh. Oleh karenanya, sosok-sosok orang kaya hari ini hampir dipastikan memiliki jumlah kekayaan yang bahkan tidak dapat dibayangkan oleh para pemilik tuyul di Mojokuto.

Nadiem Makarim misalnya, menteri sekaligus pendiri Gojek tersebut, mencatatkan kekayaan di atas satu triliun. Aset tersebut tidak diperoleh dengan tuyul atau babi ngepet, melainkan dari nilai aplikasi yang menjadi sarana sekitar jutaan tukang ojek lainnya mencari nafkah. Dengan nilai tersebut, kekayaan Nadiem mencapai kira-kira sepuluh ribu kali kekayaan rata-rata warga Indonesia. Tingkat akumulasi kekayaan semacam ini hanya dimungkinkan melalui asumsi bahwa nilai perusahan seperti Gojek akan terus tumbuh di masa yang akan datang.

Meskipun tidak semua orang benar-benar paham cara kerja pasar modern, cerita ini seolah lumrah karena jadi bagian dari narasi yang sering kita dengar. Sebaliknya, cerita soal babi ngepet dan asumsinya soal kekayaan yang terbatas jadi nampak seperti relik primitif. Namun, jika kita harus menceritakan akumulasi kekayaan modern pada masyarakat Mojokuto di tahun 50-an, maka kita barangkali akan terdengar lebih gila daripada pemuka agama di Depok yang merekayasa penangkapan babi. Perlu berapa ratus tuyul dipelihara untuk seseorang mencapai kekayaan ribuan kali warga lainnya? Jika para pemelihara tuyul diganjar dengan sekarat yang menyakitkan, apa ganjaran yang diterima orang-orang yang jadi kaya dari hal gaib bernama aplikasi? Bagaimana kekayaan dapat dipindahkan dalam hitungan detik hanya dengan ketukan-ketukan di atas kaca?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan persoalan yang mudah untuk dijawab. Pada saat yang sama, cerita ganjil soal tuyul, babi ngepet, atau hewan gaib lainnya jadi tidak terdengar terlalu irasional. Bagi kebanyakan dari kita, cerita alam gaib toh terdengar lebih akrab dan mudah dipahami daripada akumulasi kekayaan modern yang amat elusif (Editor Ranny Rastati).

Referensi:

Ilustrasi: Shutterstock

Dillinger, Johanness. 2021. “Rich Witches.” Aeon. 2021.

Geertz, Clifford. 1976. The Religion of Java. Chicago: University of Chicago Press.

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB LIPI

_______________________________________

Tentang Peneliti

Ibnu Nadzir memperoleh gelar Master dari Departemen Antropologi Sosial dan Budaya di Universitas Amsterdam. Saat ini dia bekerja sebagai Peneliti di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI dengan fokus gerakan sosial dan penggunaan Internet. Dia dapat dihubungi lewat ibnu.nadzir@gmail.com

 

NO COMMENTS

Exit mobile version