Home Artikel Berita Bedah Buku: Memaknai Nasionalisme di Kalangan Milenial

Bedah Buku: Memaknai Nasionalisme di Kalangan Milenial

0

Jakarta, Humas LIPI. Persoalan nasionalisme dan pemuda masih menjadi masalah yang memerlukan perhatian lebih. Seperti yang disampaikan oleh Plt. Kepala Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ahmad Najib Burhani, dalam sambutannya pada Forum Diskusi Budaya Seri 10 yang mengangkat Diskusi Buku “Nasionalisme Ala Milenial: Sebuah Disrupsi? yang diselenggarakan secara daring pada Senin (22/3) lalu. “Paradigma baru tentang nasionalisme dan juga transnasionalisme berkembang dengan adanya konsep Dwi Kewarganegaraan, atau yang disebut juga Globalcitizenship, hal tersebut terjadi karena dukungan kemajuan teknologi informasi yang secara tidak langsung melepaskan sekat-sekat kebangsaan antar negara,” tegas Najib.

Transnasionalisme sendiri adalah sebuah gerakan sosial yang tumbuh karena meningkatnya interkonektifitas antar manusia di seluruh permukaan bumi dan semakin memudarnya batas-batas negara. Dengan berkembang pesatnya telekomunikasi, khususnya internet, migrasi penduduk dan terutama globalisasi menjadi pendorong perkembangan transnasionalisme ini.

Najib menambahkan bahwa tema yang diangkat pada buku ini sudah sangat sering dibahas, namun yang disampaikan didalam buku ini menegaskan dari perbedaan pendekatan yang diambil. “Yang unik pendekatan buku ini adalah cara bagaimana kelompok muda ini melihat pada makna dan mengimplementasikan dari nasionalisme itu sendiri,” katanya.

Lanjut dalam penjelasannya, Indonesia saat ini sangat diuntungkan dengan adanya bonus demografi dimana populasi generasi muda usia produktif yang jumlahnya hampir setengah dari penduduk Indonesia. “Namun, yang menjadi persoalan, bahwa kelompok ini sering disebut tidak bisa memahami tentang berbagai civic religion sebuah bangsa, seperti upacara bendera, hari-hari besar dan sebagainya. Mereka lebih cenderung menggandrungi produk-produk asing dan bahkan budaya asing dimana mereka lebih terkoneksi dengan masyarakat dunia dibandingkan masyarakat sendiri. Oleh karena itu diskusi buku ini menjadi sangat penting untuk mengetahui dan mempelajari nasionalisme ala kalangan milenial,” tegas Najib.

Thung Ju Lan, peneliti Senior Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, yang turut menghadiri diskusi tersebut menyampaikan, hal yang melatar belakangi pembuatan buku ini adalah untuk memberi ruang kepada para generasi milenial untuk dapat mengekspresikan dirinya.

Pada kesempatan yang sama peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Puji Hastuti menyoroti nasionalisme dari segi yang lain. Puji menyampaikan bahwa dalam bukunya ini dia menegaskan beberapa hal yang saling terkait yaitu “Nasionalisme, Milenial, Fashion dan Teknologi Media Sosial.” Karena menurutnya salah satu hal yang tidak dapat dilepaskan dari gemuruh sosial media adalah mode busana atau Outfit of The Day (OOTD).

Puji mengungkapkan bahwa “Di kalangan generasi milenial, busana tidak hanya sekedar pelindung kulit tubuh dari bahaya cuaca ekstrim. Sehingga dengan memakai busana bercorak nusantara dapat dikatakan bahwa seorang individu tengah mengekspresikan identitasnya sebagai bagian dari komunitas.”

“Fenomena berbusana corak nusantara diawali oleh masuknya batik sebagai warisan Budaya Takbenda atau Intengible Cultural Heritage (ICH) dalam list UNESCO pada 2 Oktober 2009,” katanya. “Memakai busana bercorak nusantara menjadi tren yang digandrungi terutama pada masyarakat urban, terlebih khususnya generasi milenial. mereka dengan bangga memakai pakaian bercorak nusantara untuk kepentingan OOTD di media sosial. Kecenderungan ini merupakan ekspresi mencintai negara dan sebagai artikulasi nilai nasionalisme dari generasi milenial” tegas Puji.

Dicky Rachmawan, peneliti Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI lainnya yang juga menyampaikan pendapatnya dalam webinar tersebut mengatakan derasnya arus informasi global semakin melunturkan budaya bangsa Indonesia. Selain itu kebiasaan mengagungkan budaya asing dan minimnya wawasan kebangsaan dikhawatirkan memicu terjadinya krisis identitas.

Lebih lanjut Dicky menyebut bahwa hal tersebut didukung dengan adanya data mengenai rendahnya wawasan kebangsaan terefleksi oleh meningkatnya kasus tawuran sebesar 14 %. Kemudian sebanyak 39% mahasiswa Indonesia terpapar radikalisme, dimana tingkat radikalisme Indonesia hampir di atas 10% secara total. Selain itu juga sekitar 62,7% remaja Indonesia pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Data lain menyebutkan bahwa terdapat kekerasan dan bullying sebesar 25,5 % pada jenjang Sekolah Dasar,” jelas Dicky.

Menurut Dicky, hal ini tidak terlepas dari pendidikan karakter yang telah diberikan selama ini. Sistem pengajaran dan pembimbingan yang membiasakan nilai-nilai luhur kebangsaan dan kewarganegaraan dimana siswa memiliki rasa tanggungjawab sebagai bagian dari suatu bangsa tidak terlaksana dengan baik.

Dari paparan yang telah disampaikan oleh para pembicara harapan terbesar terjadinya diskusi dalam acara ini akan menambah wawasan kebangsaan dan nasionalisme dikalangan milenial sebagai generasi penerus bangsa. (Rdn/Ed: SF)

_________________________

*) Berita dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB LIPI

*) Ilustrasi: see news

 

NO COMMENTS

Exit mobile version