[Masyarakat & Budaya, Volume 19, Nomor 14, Juli 2021]

Oleh Agus Iswanto (Peneliti di Balai Litbang Agama Semarang)

Prof. Dr. Muhamad Hisyam, Peneliti Ahli Utama dan Profesor Riset (purnabakti) di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB LIPI), telah berpulang pada Minggu dinihari 18 Juli 2021. Prof. Hisyam adalah salah satu periset di LIPI yang menekuni bidang studi keagamaan, khususnya Islam dalam masyarakat Islam di Indonesia. Prof. Hisyam adalah orang bersahaja dan disiplin dalam pekerjaan. Selain itu, dia juga termasuk pembimbing yang sabar kepada peneliti-peneliti junior di bawahnya.

Sebuah biografi singkat dalam salah satu buku Prof. Hisyam (2001), menyebutkan bahwa ia lahir di Cilacap, 7 Juni 1952. Mula-mula dia belajar di Sekolah Guru Agama pada tahun 1971, lalu melanjutkan pada jenjang pendidikan sarjana muda dalam Bahasa Arab di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan selesai pada 1975. Setelah itu menyelesaikan jenjang sarjana penuh (Drs) dalam bidang Sejarah dan Kebudayaan Islam pada 1978. Karir penelitinya sudah dimulai tatkala dia bergabung di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menjadi seorang asisten peneliti. Lalu pada tahun 1980, dia mulai bergabung menjadi peneliti PMB-LIPI. Tahun 1989 dia menyelesaikan studinya di jenjang master dalam bidang sosiologi di Universitas Indonesia (UI). Lalu pada tahun 1992-1997 dia melakukan studi untuk jenjang doktoralnya di Universitas Leiden. Dia fokus pada kajian tentang administrasi keagamaan di Jawa ketika masa pemerintahan Kolonial Belanda. Selain itu, Prof. Hisyam juga pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan pada 2001-2008.

Sejarawan Penghulu

Perkenalan saya pertama kali dengan Prof. Hisyam adalah ketika menjadi peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Agama Jakarta. Sayup-sayup saya menyimak presentasi-presentasinya dalam berbagai kesempatan ketika menjadi narasumber. Perkenalan lebih intens kepadanya, terutama kepada karya-karyanya, adalah saat saya hendak menulis suatu tesis tentang manuskrip Jawa yang berisi teks-teks fikih di Keraton Yogyakarta. Waktu itu, pembimbing tesis saya, Prof. Oman Fathurahman (guru besar Filologi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), menugaskan saya membaca tesis Prof. Hisyam tentang sejarah penghulu Jawa. Ini karena beberapa teks yang menjadi bahan pelajaran calon penghulu adalah teks-teks yang sedang saya kaji. Tugas ini dimaksudkan agar saya lebih dapat memahami konteks fungsional teks-teks dalam manuskrip yang saya sedang kaji.

Perkenalan lebih dekat lagi dengannya adalah saat saya mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Peneliti Pertama. Prof. Hisyam adalah pembimbing saya untuk tugas akhir penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Kesan saya pertama kali waktu itu, dia adalah salah seorang pembimbing yang agak “dingin,” tetapi setelah berhadap-hadapan langsung dengannya, dia banyak memberikan masukan tentang rancangan artikel yang sedang saya tulis. Belakangan saya baru mengerti karena Prof. Hisyam memiliki minat yang sama terhadap topik yang sedang saya tulis, sebabnya dia banyak memberikan masukan. Sering pula, dia mengkritik argumen-argumen yang saya bangun, tetapi tidak lupa juga memberikan saran konstruktif untuk perbaikan. Tampak dia sangat tekun membaca satu-persatu artikel peserta yang dibimbingnya. Suatu ketika, saat bertemu jauh setelah Diklat selesai, dia menanyakan perkembangan artikel yang saya tulis, “Sudah terbit di mana artikel Anda?” Tentu ini sebuah perhatian yang bukan basa basi kepada muridnya.

Ketekunan semakin tampak ketika Prof. Hisyam menjadi salah satu mitra bestari Jurnal Penamas di Balai Litbang Agama Jakarta, di mana saya bersama almarhum Bapak Malik Taha Tuanaya—salah seorang Peneliti Ahli Utama yang baru-baru ini juga telah meninggal—pernah mengelolanya. Tampak tanggung jawabnya selalu dipegang sebagai seorang mitra bestari. Sering kali dia meminta maaf jika hasil reviewnya terlambat dikirimkan karena kesibukannya, meskipun setiap artikel yang direviewnya selalu penuh dengan coretan. Ini menandakan keseriusan dan dedikasinya dalam membaca satu persatu artikel.

Prof. Hisyam adalah, yang saya ketahui, salah satu sarjana dan sejarawan yang menulis tentang sejarah penghulu Jawa. Disertasinya berjudul Caught between Three Fires: The Javanese Pangulu Under the Dutch Colonial Administration, 1882-1942, diselesaikan di Universitas Leiden, dan kemudian diterbitkan oleh Indonesian-Netherland Cooperation in Islamic Studies pada tahun 2001. Dengan disertasi ini, Prof. Hisyam menjadi salah satu yang utama sebagai sejarawan asal Indonesia yang menulis tentang sejarah penghulu, selain sarjana-sarjana Barat tentu saja.

Hal yang menarik perhatian saya adalah sumber-sumber yang dia gunakan ketika menulis historiografi penghulu Jawa. Dalam sebuah artikelnya (Hisyam, 2005), Prof. Hisyam mengatakan bahwa ketika melakukan penelitian sejarah tentang penghulu di Jawa, dia mengalami kesulitan dalam memperoleh gambaran atau citra pejabat penghulu ini dalam kacamata orang Jawa sendiri. Menurutnya, memang banyak tulisan-tulisan tentang penghulu Jawa dari dari sarjana Barat, termasuk Pemerintah Belanda, tetapi tulisan-tulisan tersebut tentu ada banyak bias di dalamnya, dan ditulis sesuai kepentingan kolonial. Oleh karena itu, dia berpaling pada sumber-sumber “pribumi” yang berupa naskah-naskah (manuskrip).

Oleh karena itu, dia kemudian banyak membaca naskah-naskah untuk menemukan potret penghulu dalam cara pandang orang Indonesia. Naskah-naskah yang banyak di baca adalah di antaranya: Serat Cabolek, Serat Jatiswara, Serat Centhini, Suluk Besi, dan Kronik Banjar. Menurutnya, dalam sejumlah naskah-naskah tersebut, tentu tidak semua menyajikan fakta sejarah karena itu dia perlu memilah mana yang betul-betul sejarah dan mana yang merupakan suatu rekaan semata.

Menurut pandangan saya, dan mungkin juga orang-orang yang mengenalnya, Prof. Hisyam adalah contoh terbaik bagaimana memanfaatkan sumber-sumber lokal dalam sebuah historiografi yang penting. Dia tidak terpaku pada sumber-sumber asing, tetapi juga mempertimbangkan dengan cermat sumber-sumber lokal sebagaimana yang juga pernah disarankan oleh sejarawan ulung Sartono Kartodirdho tentang “dekolonisasi sejarah dan Indonesiasentrisme” (Nursam, 2008). Selain itu, Prof. Hisyam juga salah satu contoh terbaik sarjana yang “berpikir kolaboratif” dan menggunakan multipendekatan dalam mengkaji suatu isu. Dalam konteks sejarah penghulu ini, dia menggunakan setidaknya tiga pendekatan, yakni filologi untuk membaca sumber-sumber naskah, sosiologi untuk melihat relasi kuasa dalam birokrasi pemerintah kolonial, juga sejarah itu sendiri sebagai upaya menjembatani masa lalu dan masa kini.

Kini, Prof. Hisyam telah berpulang kepada “Sang Maha Pencipta Sejarah”. Semoga jasa dan jejaknya dapat terus menginspirasi para muridnya, begitu juga semoga ketulusan serta dedikasinya untuk ilmu pengetahuan menjadi contoh teladan bagi para juniornya. Selamat jalan Prof. Hisyam (Editor Ranny Rastati).

Referensi

Hisyam, M. (2001). Caught between three fires: The Javanese Pangulu Under The Dutch Colonial Administration, 1882-1942. Jakarta: INIS.

Hisyam, M. (2005). Potret Pengulu dalam Naskah: Sebuah Pengalaman Penelitian. Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, 125-133.

Nursam, M. (2008). Membuka Pintu bagi Masa Depan: Biografi Sartono Kartodirdjo. Jakarta: Kompas.

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB LIPI

_______________________________________

Tentang Penulis

Agus Iswanto adalah peneliti manuskrip keagamaan pada Balai Litbang Agama Semarang sejak tahun 2017. Sebelumnya, dari tahun 2009-2017, dia menjadi peneliti pada Balai Litbang Agama Jakarta. Menyelesaikan S1 di Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, dan S2 dalam Kajian Filologi dan Islam Indonesia di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Email: agus.iswanto83@gmail.com