Home Artikel Opini Durga dari Publik menjadi Privat, Konstruksi Feminitas

Durga dari Publik menjadi Privat, Konstruksi Feminitas

0

[Masyarakat & Budaya, Volume 17, Nomor 7, April 2021]

Oleh Widjajanti M. Santoso (Peneliti PMB LIPI)

Konstruksi Domestik

Kartini sebagai ilustrasi tentang berjalannya konstruksi perempuan di Indonesia. Sosoknya memiliki banyak makna dan paradoksikal. Ia adalah simbol dari gerakan perempuan. Selain juga dari keibuan dan fashion idol dalam kebaya, baju daerah dan baju nasional, hari lahirnya dirayakan, namun pemikirannya jarang dibahas. Karyanya bisa dimaknai sebagai sumber inspirasi sekaligus menunjukkan bahwa teks dan menulis merupakan hal yang penting di dalam konteks perempuan di Indonesia yang jarang dibicarakan. Konstruksi perempuan dapat dilihat dari diskursus tentang feminitas yang muncul di iklan, majalah, televisi, film dan lainnya. Dorothy Smith mengangkatnya sebagai bentuk hubungan sosial yang disebut sebagai text mediated discourse. Di dalam konteks ini perempuan adalah subjek dan agen yang aktif mengolah informasi melalui text (Smith, 1990), akan tetapi di dalam proses tersebut, text berkaitan dengan pengorganisasian kehidupan keseharian dan berkaitan dengan social practice. Sebagai ilustrasi kategori cantik tidak hanya ada di dalam text tetapi dapat ditemukan di pasar dalam bentuk fashion, salon kecantikan, skin and slim clinics dan lainnya. Film, drakor (drama Korea), DIY di Youtube menterjemahkan dalam kemudahan penggunaannya dan tentu saja hasil yang cemerlang.

Pertanyaannya adalah text mediated discourse seperti apa yang ditunjukkan dan dapat diamati, diikuti, ditayangkan, dinikmati melalui teks budaya popular, yaitu antara lain melalui cover majalah.

Berdasar pada konteks di atas, tulisan ini bercerita tentang perubahan representasi perempuan yang diambil dari perempuan dengan banyak tangan-Durga yang dilihat dari arcanya dan simbolnya dalam majalah wanita. Di Indonesia, mitos Durga terpecah dalam berbagai sisi, dari satu sisi perempuan yang mumpuni dan disisi lain menggambarkan mistis dan menakutkan (Muhaimin, 2005). Perubahan telah terjadi karena dalam konteks modernitas perempuan banyak tangan merepresentasikan beban dan peran domestik perempuan.

Dalam khasanah sosiologi, peran perempuan dilihat dalam dikotomi privat (domestik) yang menjadi ruang perempuan dan publik sebagai ruang laki-laki. Perbedaan publik dan privat ini tidak imbang karena kegiatan dan peran perempuan berada di dalam ruang-ruang tersebut sehingga perbedaan tersebut memarginalisasikan peran perempuan. Perspektif feminis menunjukkan keprihatinan terhadap proses pembakuan peran yang semakin memasukkan perempuan di dalam kotak privat yang berdasar pada norma dan nilai sosial dan agama. Pendekatan sosiologi feminis menunjukkan kecenderungan domestikasi yang melihat keberadaan perempuan di keluarga menjadi utama sebagai peletak dasar dari kehidupan yang baik untuk keluarga dan masyarakat.

Durga, Perubahan Representasi Feminitas

Mitos Durga pernah ada di Indonesia paling tidak di Jawa. Mitos Durga adalah perempuan berparas cantik diciptakan dari lidah api dan representasi dari  kesaktian para dewa. Durga diciptakan para dewa yang tidak mampu mengalahkan raksasa bermuka kerbau bernama Mahesasura yang berdiam di Gunung Windya. Oleh para Dewa Durga digambarkan memiliki 10 tangan yang memegang senjata berbeda yang merupakan hadiah dari para dewa seperti cakra milik Wisnu, trisula milik Siwa, sangka milik Waruna, pisau milik Agni, busur panah milik Wayu, kaladanda milik Yama, vajra milik Indra, dan cangkir besi milik Kubera. Mitos perempuan sempurna yang menunggangi harimau bahkan pakaian, dan aksesoris merupakan hadiah dari dewa seperti anting, kalung, gelang dan cincin dari Ksirarnawa, dan kalung mutiara hadiah dari Shesa. Dalam mitosnya, Durga adalah penyelamat, yang disimbolkan dirinya menginjak seekor kerbau (Rutmawati, 2016).

Paradox juga muncul dalam mitos yang menggambarkan Durga secara mistis sekaligus menghasilkan rasa takut (Muhaimin, 2005). Durga juga digambarkan menciptakan rasa takut seperti yang ditampilkan di dalam komik pewayangan (Oerip, 1997), sehingga Durga merepresentasikan konstruksi tentang feminitas, dan perubahan makna dari perempuan penyelamat menjadi perempuan yang menakutkan. Dalam konteks modern, candi Durga ditemukan dan digambarkan dalam konteks eksotisme yang lepas dari makna perempuan sakti (Suprihati, 1997).

Jika arca tersebut menggambarkan beberapa fungsi, maka menarik untuk melihat apakah penggambarannya seragam atau tidak. Fungsi simboliknya dapat dilihat dari penelitian tentang variasi makna seperti  yang ada di Bali (Basudewa, 2019). Makna menunjukkan harapan dan keinginan dari komunitas terutama tentang keamanan dan kesejahteraan. Selain itu jumlah tangan juga berbeda dari 8 hingga 10 dan bahkan ada yang ganjil.

Dalam konteks modern, penggambaran perempuan dengan beberapa tangan dipergunakan untuk menggambarkan peran domestik perempuan seperti yang ada di cover perdana dari majalah wanita pertama di Indonesia “Femina”. Di dalam gambar ini seorang perempuan dewasa dengan beragam peran dan fungsinya yang berkaitan dengan tugas domestiknya (Gillis Stacy, 2009). Di depannya duduk seorang anak perempuan, seakan menggambarkan kilas antara anak perempuan yang belum mendapatkan beban tersebut dan perempuan dewasa dengan beragam bebannya. Mesin tik menggambarkan stereotype pekerjaan perempuan yang mendukung dinamika lain yang lebih besar.

Perempuan dengan banyak tangan tersebut merefleksikan Durga modern mengangkat sosok perempuan domestik yang sukses, rumah tangga, keluarga dan pekerjaan. Penggambaran keluarga kelas menengah yang sukses membawa suami dan anak-anak menapak pendidikan, pergaulan dan juga di dalam mendapatkan pekerjaan. Sehingga sosoknya menjadi idola perempuan muda hingga tua. Kekuatannya adalah untuk menciptakan keamanan dan memiliki kompleksitas fungsi sebagai istri dan ibu.

Sungguh menarik untuk melihat bahwa perempuan modern lebih dilihat dalam konteks beban dibandingkan kekuatannya. Mitos perempuan perkasa seperti Durga sudah berubah menjadi perempuan dengan beban domestik. Merengkuh fungsi simbolik domestik merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari reproduksi peran domestik perempuan. Pada jamannya Femina unggul sebagai majalah yang belum pernah ada sebelumnya dan memiliki berbagai kegiatan yang mewarnai kegiatan fashion dan juga pemilihan cover girl. Substansinya adalah kanan dalam pengertian menggambarkan konstruksi perempuan sukses, keluarga, pekerjaan, ide, dapur, dan juga di dalam konsumsi. Keberadaannya melanjutkan dari konstruksi perempuan priayi dalam konteks konsep modern adalah kelas menengah yang menampilkan pendidikan, mendukung suami, manajer rumah tangga yang unggul, dan seorang smart shopper (Yuswohady, 2010; 2015)

Dalam bahasa feminis di Indonesia adalah konstruksi ibuisme (Suryakusuma, 2011), konstruksi klasik perempuan Indonesia yang menjadi dasar di dalam konstruksi feminitas perempuan terutama pada masa Orde Baru. Dengan demikian kalaulah peran perempuan tidak terlihat, salah satunya adalah representasi Durga yang perkasa, sakti dan menyelamatkan dunia sudah membatu dan tidak lagi merepresentasikan imagi tentang feminitas.

Perkembangan teknologi komunikasi dan internet semakin memperlihatkan bahwa diskursus yang dibawa melalui teks mendominasi pola sosialisasi dibandingkan dengan sosialisasi secara langsung. Di dalamnya diskursus femininitas muncul dengan beragam walau sisi domestik menjadi kentara karena intertekstualitas dengan pasar, pandangan, dakwah, fashion, dan kegiatan sosial lainnya.

Di dalam khasanah pemikiran feminis, Helene Cixous memberi ilustrasi dengan melakukan “pun”, yaitu memberi makna baru melalui pembacaan teks dengan menggunakan perspektif yang berbeda (Santoso, 2011). Namun untuk melakukan hal tersebut, simbol, image, mitos atau representasi perempuan perlu diangkat sebagai teks yang menggambarkan imagi femininitas. Memadukan dua gambaran perempuan dengan banyak tangan seperti ini menunjukkan adanya perbedaan konstruksi dan perubahan perempuan sakti menjadi perempuan dengan beban domestik. Eksplorasi tentang gambaran-gambaran perempuan di dalam konteks sosial dan budaya menjadi penting ketika mengaitkannya dengan konstruksi sosial yang lebih besar. Text mediated reality tidak hanya memberikan konteks teoritis bahwa kehidupan keseharian secara sosiologis penting terutama untuk mengangkat signifikansi perempuan yang berkaitan dengan social practices dan juga social value yang patriarki. Pertanyaannya adalah peran domestik yang dibayangkan berada di pundak perempuan (saja), padahal lelaki juga memiliki perannya? (Editor Al Araf Assadallah Marzuki).

*) Tulisan dibuat untuk mengenang Prof Dr Hariani Santiko, arkeolog yang menuliskan tentang Durga

Referensi

Ilustrasi: Merdeka

Gambar Femina: https://www.kompasiana.com/nprih/5c19975812ae943bdc3e50f5/eksotisitas-betari-durga-di-candi-sambisari-yogyakarta?page=2

  1. E. Smith, text, facts and femininity. explooring the relations of ruling. london and New York: Routledge, 1990.
  2. G. Y. Basudewa, “Laksana Arca Durga Mahisasuramardini di Bali: Sebuah TInjauan Variasi dan Makna,” Siddhayatra J. Arkeol., vol. 24, no. 2, pp. 128–149, 2019.
  3. J. Gillis Stacy, Ed., Feminism, Domesticity and Popular Culture. New York: Routledge, 2009.
  4. Suryakusuma, Ibuisme Negara. Depok: Komunitas Bambu, 2011.
  5. A. Muhaimin AG., “Islam Jawa: Antara Holisme dan Individualisme,” Stud. Islam., vol. 12, no. 1, Apr. 2005, doi: 10.15408/sdi.v12i1.649.

Oerip, Betari Durga (Dewi Uma). 1977.

  1. Rutmawati, “Mengenal sosok mitologi Durga, sang dewi perkasa dari Kahyangan,” merdeka.com, 2016. [Online]. Available: https://m.merdeka.com/malang/gaya-hidup/mengenal-sosok-mitologi-durga-sang-dewi-perkasa-dari-kahyangan-161122u.html.

Suprihati, “Eksotisme Betari Durga di Candi Sambisari, Yogyakarta,” Kompasiana.com, 2018. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/nprih/5c19975812ae943bdc3e50f5/eksotisitas-betari-durga-di-candi-sambisari-yogyakarta?page=2.

  1. M. Santoso, Sosiologi Feminisme: Konstruksi Perempuan dalam Industri Media. Yogyakarta: LkiS, 2011.

Yuswohady, Marketing To the Middle Class Muslim, Kenali Perubahannya, Pahami Perilakunya, Petakan Strateginya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015.

Yuswohady, D. H. Palupi, and T. S. Pambudi, Womanology: The Art of Woman Marketing. Gramedia Pustaka Utama, 2010.

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB LIPI

_______________________________________

Tentang Penulis

Widjajanti M. Santoso adalah peneliti senior dan  pemimpin redaksi Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI. Ia dapat dihubungi melalui email widjasantoso@gmail.com.

NO COMMENTS

Exit mobile version