Home Artikel Opini Mempertanyakan Ulang Jilbab Sebagai Pemaksaan

Mempertanyakan Ulang Jilbab Sebagai Pemaksaan

0

[Masyarakat & Budaya, Volume 17, Nomor 7, April 2021]

Oleh Syarfina Mahya Nadila dan Wahyudi Akmaliah (Peneliti PMB LIPI)

Artikel yang ditulis oleh Julia Kusuma dengan “We are all Nadya: Shariaization by ‘jilbabization” yang terbit di The Jakarta Post (31/3/2021) tidak hanya menarik, melainkan perlu direfleksikan kembali, khususnya terkait dengan pemaksaan penggunaan jilbab. Pengalaman membaca artikel tersebut yang saya, Syarfina, rasakan sebagai seorang Muslim yang berjilbab sejak usia 18 tahun sama dengan Nadya adalah, saya bukan Nadya dan tidak memiliki pengalaman sepertinya. Meskipun sesama perempuan, saya memiliki empati kepadanya yang mengalami persoalan psikologis. Pertanyaannya, apakah pengalaman pemaksaan jilbab itu dialami juga oleh banyak orang? Sejauhmana sebenarnya pengalaman Nadia itu bisa dijadikan landasan bahwasanya pengalaman penggunaan jilbab menjadi gelombang besar pemaksaan?.

Saya pribadi memutuskan mengenakan jilbab bukan karena paksaan dari orang tua, sekolah, jaringan pertemanan ataupun institusi negara. Bahkan saat saya masih duduk di bangku SMA saya tidak menjadi bagian dari anggota ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis). Berbeda dengan Nadya, saya justru mengalami transformasi perasaan nyaman dengan jilbab yang saya kenakan dan jauh lebih tenang. Bahkan, saat berkesempatan untuk presentasi di luar negeri untuk isu sosial yang saya tekuni dalam sebuah konferensi, saya tetap mengenakannya.

Selain menjadi bagian identitas diri saya sebagai seorang Muslim, jilbab menjadi penanda kenyamanan saya, baik sebagai figur perempuan Indonesia maupun profesional sebagai peneliti.

Oleh karena itu, pengalaman traumatik mengenakan jilbab yang dialami oleh Nadia justru sebaliknya akan saya rasakan ketika saya tidak mengenakan jilbab ini. Dua irisan pengalaman yang berbeda ini sebenarnya menunjukkan bagaimana pengalaman jilbab menjadi persoalan personal. Tingkat personalitas inilah yang memungkinkan interpretasi pengalaman tersebut menjadi sangat subyektif dan bahkan untuk menjadi intersubyektif pun sangat sulit.

Dalam penelitian Sosiologi setidaknya ada dua macam pendekatan penelitian yang lazim digunakan, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Dua pendekatan ini mengakar dari paradigma yang berbeda. Kuantitatif mengakar pada pemikiran Emile Durheim (1982), sedangkan kualitatif mengakar pada pemikiran Marx Weber (1949). Dari dua tradisi metodologi yang berbeda ini akan menghasilkan analisis dan cara penarikan kesimpulan yang berbeda pula. Karena itu, ada keganjalan dalam diri saya saat membaca artikel tersebut. Harus diakui, untuk mengetahui pengalaman hidup seseorang, pendekatan penelitian memang menjadi sangat penting sebagai upaya untuk mengetahui pemaknaan seseorang tentang kehidupannya. Dalam konteks ini adalah pemaknaan mengenai seseorang terkait dengan jilbab sebagai identitas yang dikenakannya. Jika menggunakan argumen ini, pemaknaan saya tentang jilbab dan pemaknaan Nadya tentang jilbab sangat subjektif dan berbeda.

Di sisi lain, tradisi diskursif dalam Islam yang digunakan oleh Nadya dalam pengalamannya menginterpretasikan jilbab, begitu juga saya dalam konteks sosial masyarakat Indonesia lebih luas juga penting. Ini karena, sebagaimana ditegaskan oleh Talal Asad (2009) bahwasanya mempelajari Islam tidak cukup hanya melihat pengalaman seseorang yang kemudian diinterpretasikan dalam konstruksi tertentu. Sebaliknya, dalam Islam ada tradisi diskursif yang terdiri dari pelbagai wacana dan doktrin yang tumbuh dalam sejarah yang membuat orang mengapa kemudian mempraktikkan ritual dan tradisi tertentu. Karena itu, pengalaman tradisi Feminis Liberal yang berasal dari Eropa dan Amerika yang diinjeksikan begitu saja dalam membaca pengalaman Nadya yang beririsan dengan Diskursif Islam oleh Julia Kusuma justru menciptakan kontra-produktif dalam membangun emansipasi perempuan Indonesia, karena pengabaian terhadap tradisi yang lain.

Kesimpulan yang diambil pun hanya berlaku di kasus itu saja, tidak bisa digeneralisir secara umum. Tidak bisa dikatakan bahwa semua pengalaman perempuan itu sama. Dengan cara ini, upaya melakukan generalisir sangat mungkin dilakukan jika yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, di mana akar pemikirannya dari Durkheim. Meskipun demikian, perlu diingat saat menggunakan penelitian ini apakah permasalahan sosial yang diangkat sudah menjadi bagian dari fakta sosial yang ada? Selain itu, saat menggunakan pendekatan ini pun pertanyaan penelitiannya tidak bisa bagaimana atau mengapa tetapi apa dan/atau seberapa kuat/lemah. Jika sudah memiliki tolak ukur yang jelas upaya melakukan generalisasi secara umum ditingkat populasi bisa digunakan. Namun, sebelum itu, perlu dilihat dulu sampling yang digunakan apakah non-probabilita atau probabilita (Neuman, 2014). Apabila probabilita barulah bisa digeneralisasi ke tingkat populasi. Dengan kata lain, yang saya ingin tegaskan sangat panjang prosesnya bila ingin ditarik ke kesimpulan umum.

Hal lain, saat melakukan riset harus dilihat pula level analisanya apakah mikro, meso atau makro. Penelitian yang bersifat  mikro seperti penelitian yang melibatkan dua orang informan atau lebih tetapi sangat mendalam maka kesimpulannya pun hanya bersifat mikro saja tidak bisa ditarik ke level yang makro. Begitu juga sebaliknya penelitian yang menganalisa hubungan negara, pasar, dan masyarakat sipil kesimpulannya hanya berlaku di level makro saja tidak bisa ditarik ke level mikro. Untuk itu, dalam melihat suatu fenomena, mencermati dengan sangat hati-hati dalam melihat level analisa yang ingin dituliskan dan pada level apa sebenarnya pendekatan yang ingin digunakan. Semuanya tidak dapat dicampuradukan. Jika tidak hati-hati maka kesimpulan yang diambil akan melompat dan tidak berakar. Harus diakui, dalam konteks feminisme, sesuatu yang personal merupakan tindakan politik (the personal is political). Tapi, kalau pengalaman tersebut sebagai upaya membangun imajinasi perasaan terancam, sementara perempuan Muslim lain merasa baik-baik saja, bagaimana? Pengalaman personal tersebut bisa jadi bukan sebagai bentuk tindakan politik, melainkan upaya hegemonik pengetahuan atas pengalaman emansipasi Eropa yang belum tentu pengetahuan tersebut relevan untuk konteks perempuan Muslim Indonesia (Editor Hidayatullah Rabbani).

 

Referensi

Ilustrasi: Shutterstock

Bangstad S. Contesting secularism/s: Secularism and Islam in the work of Talal Asad. Anthropological Theory. 2009;9(2):188-208. doi:10.1177/1463499609105477

Weber, Max. (1949). The Methodology of Social Sciences. Edward A. Shils and Henry A. Finch (ed.) Illinois: The Free Press

Durkheim, E. 1982. The Rules of Sociological Method. Steven Lukes (Ed). New York: The Free Press

Neuman, W. Lawrence. 2014. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches Seventh Edition. Essex: Pearson Education Limited

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB LIPI

_______________________________________

Tentang Penulis

Syarfina Mahya Nadila adalah peneliti Sosiologi di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI. Kajian yang dilakukan berfokus pada bidang sosiologi umum dan perkotaan. Ia dapat dikontak melalui email mahya.nadila01@gmail.com.

 

Wahyudi Akmaliah adalah peneliti Islam dan Budaya Pop di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI. Saat ini sedang melanjutkan pendidikan doctor di NUS jurusan Malay Studies. Ia dapat dikontak melalui email wahyudiakmaliah@gmail.com.

 

NO COMMENTS

Exit mobile version