Home Artikel Berita Nilai-nilai Penting, Data Penelitian Sosial dan Kemanusiaan Jadi Aset Berharga

Nilai-nilai Penting, Data Penelitian Sosial dan Kemanusiaan Jadi Aset Berharga

0
Social Networking

Jakarta, Humas LIPI. Data penelitian ilmiah adalah salah satu aset terpenting dan berharga. Penelitian bidang Sosial dan Kemanusiaan berhubungan dengan Manusia serta dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut implikasinya terhadap Kebudayaan dan Masyarakat. “Kebudayaan adalah fungsi dari struktur sosial. Ada perbedaan antara sistem budaya dan sistem sosial”, terang Peneliti Utama Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya (PMB) LIPI, Katubi, dalam webinar Research Data Management (RDM), pada Selasa (8/9) lalu.

“Dalam bidang kebudayaan, data bidang sosial kemanusiaan sangat variatif. Jenis data dalam kebudayaan dibagi menjadi dua: Pertama, Perilaku Verbal, meliputi perilaku tuturan atau lisan, kemudian teks atau tulisan. Kedua, Perilaku Kinetis, bisa berwujud artefak, lingkungan alam termodifikasi (terolah), dan lingkungan alam murni”, urai Katubi.

Dirinya menjelaskan, meskipun rumpun data dalam ilmu sosial kemanusiaan kelihatannya seragam, namun kalau diperhatikan dalam satu disiplin ilmu sangat unik. Keunikan Data tersebut mencakup, Linguistik Deskriptif, basis datanya adalah korpus bahasa yang tidak seragam . Contoh, untuk mempelajari bahasa Indonesia, istilah, mudik dan pulang kampung masih menjadi perdebatan. “Seharusnya kita mempunyai korpus bahasa setara nasional untuk membandingkan perubahan secara semantis, dramatikal, dan sebagainya”, ungkapnya. Dirinya menyebutkan keunikan data lainnya juga terlihat dari aspek, Pragmatik tentang penggunaan bahasa; Dokumentasi bahasa; Analisis wacana; Sosiolinguistik; dan Linguistik historis komparatis.

Nilai-nilai Penting Data Penelitian

“Data penelitian ilmu sosial kemanusiaan disebut sebagai aset. “Aset adalah sumber daya yang memiliki nilai penting untuk dikembangkan”, terang Katubi lebih lanjut.

Katubi, menguraikan nilai-nilai penting data penelitian yaitu: 1).Nilai historis, terkait dengan data sejarah Indonesia penting untuk dikembangkan;  2).Nilai ekonomis, 3).Nilai politis, 4).Nilai edukatif. 5).Nilai sosiokultural, 6). Nilai sttrategis kebijakan,  yang berbasis data.  “Kepemilikan data dari berbagai perspektif digunakan sebagai arah pengambil kebijakan strategis. Adapun data penelitian bidang ilmu pengetahuan sosial kemanusiaan pada umumnya adalah intangible asset”, sebut Katubi.  

“Penilaian data penelitian sebagai aset bukan sekedar jumlah rupiah yang dihasilkan oleh data penelitian sosial kemanusiaan, tetapi nilai kebermanfaatannya, untuk: (1). Akademisi, akan sangat menolong sekali, karena tidak harus memulai dari nol lagi; (2). Masyarakat, kalau ingin melibatkan masyarakat paling tidak sudah memiliki data; (3). Pemerintah, tentunya sangat terbantu dengan adanya repistori data ilmiah, khususnya dari sisi sosial kemanusiaan, politis, dan spengambilan kebijakan; (4).Para pemangku kepentingan yang terkait”, katanya.

Agar nilai data penelitian ilmu sosial kemanusiaan terus meningkat dari waktu ke waktu, maka data seharusnya; 1).Beragam, dari sisi waktu, wilayah, dan gender. Semakin beragam data sosial kemanusiaan kan membuat pandangan kita akan sesuatu itu semakin luas; 2).Data itu besar atau banyak. Jadi semakin banyak data yang kita miliki, semakin terus bernilai; 3).Data harus terus-menerus dipasok dan membuka berbagai peluang; 4).Data harus transparan, maksudnya memudahkan publik untuk dapat menelusuri data yang disediakan; 5).Memperhatikan aspek etika, baik dalam pengumpulan data, analisis dan pemanfaatannya. “Artinya, meskipun kita ingin menyatukan semua data, tetap aspek etika menjadi penting dan jangan sampai ada klaim antar pihak”, terang Katubi.

Masih dijelaskan Katubi, bahwa penyajian data penelitian  sebagai aset, yaitu: (1).Data penelitian disajikan untuk publik; 2).Data penelitian diklasifikasi dengan dasar klasifikasi tertentu. Dasar klasifikasi yang berbeda menghasilkan kelompok yang berbeda; 3).Data penelitian diurutkan secara kronologis, mulai dari yang terkini sampai terdahulu atau sebaliknya;  4).Kebijakan penggunaan data penelitian sebagai aset harus dikemukakan dengan detil dan mudah dipahami publik”, jelas Katubi.

“Penyajian dalam berbagai data membuat penelitian lebif efisien untuk membuat aplikasi pengelolaan data penelitian ilmu sosial kemanusiaan yang begitu beragam. Terdapat empat unsur data: Data angka, transkripsi hasil wawancara, kuesioner, dan FGD ”, tutup Katubi. (dsa/ed:mtr)

 

Ilustrasi: HSE

NO COMMENTS

Exit mobile version